Kamis, 21 Januari 2016

Childhood Memory: Ucing Sendal


Masa kecil mungkin adalah masa terbahagia menurut saya. Bak seekor anak burung, di masa itu, saya banyak belajar, meniru, dan tentunya bahagia. Bagi saya, di masa itu, yang ada di fikiran saya adalah bahagia, bahagia, dan bahagia. Tak ada beban, kesedihan, dan ketakutan. Dibesarkan sebagai anak pertama, membuat saya menjadi satu-satunya, dibesarkan dengan kasih sayang dari kedua orang tua saya. Apapun yang saya lakukan, membuat mama dan papa selalu tersenyum. Entah selucu apa saya saat itu sampai membuat mereka tersenyum. Satu hal yang tak pernah saya lupakan saat masa kecil saya adalah, permainannya!
Source: http://home.bt.com/lifestyle/family/parenting/gardening-is-favourite-childhood-memory-11363903975132


Ya, saya senang sekali bermain, sehari pun tak pernah saya lewatkan tanpa bermain. Sepulang dari taman kanak-kanak, saya berpatroli menyatroni satu persatu rumah sahabat kecil saya untuk mengajak mereka bermain. Saya bersyukur, tinggal di kawasan padat penduduk di masa kecil saya, bukan di komplek-komplek perumahan elit yang jarak antar rumahnya berjauhan dan terkesan lebih individualis. Banyak sekali anak sepantaran saya yang menjadi teman masa kecil saya. Ada yang cengeng, aduan atau sedikit-sedikit bilang ke mama, anak mami, tomboy, bandel, ingusan, centil, dan masih banyak lagi karakter mereka yang masih saya ingat hingga detik ini. Bahagia loh mengenangnya.
Banyak sekali permainan yang kami mainkan. Permainan legendaris ya tentu saja bermain ‘Saya orang kaya, saya orang miskin’. Di daerah saya, banyak sekali permainan yang namanya pun di ambil dari bahasa Sunda seperti Oray-orayan atau bahasa Indonesianya ular-ularan, ucing sumput (Petak umpet), ucing bancakan, ucing betadine, ucing sendal. Entah darimana asal muasalnya hingga diberi nama awalan ucing, mungkin karena bermainnya seperti kucing, kah? Ada juga permainan lain seperti ‘dua belas menjadi patung’ yang mana kita dilarang untuk bergerak selama dua belas kali hitungan, yang bergerak itu menjadi ucing atau kucingnya. Boy-boyan, lompat tinggi, congklak, kuwuk, beklen, engkle, sapintrong, dan masih banyak lagi. Beberapa diantaranya sudah tak pernah saya jumpai di anak-anak masa kini. Permainan yang paling berkesan bagi saya adalah ucing sendal atau bahasa Indonesianya kucing sendal. Entah mengapa namanya bisa menjadi kucing sendal. Kenapa permainan ini berkesan buat saya? Karena sebelah sendal saya yang baru beberapa hari dibeli mama hilang gara-gara kucing sendal itu! 

Jadi sekilas permainannya adalah seperti petak umpet, namun yang disembunyikan adalah sendal, bukan orang yang bersembunyi dan orang yang kucing itu harus menemukan sendal pemain lainnya.
Pertama kali, kita melakukan gambreng, setelah ada yang menjadi kucing, si kucing itu harus masuk ke dalam lingkaran yang ditulis oleh kapur di tanah, semua pemain mengumpulkan sebelah sendalnya bersama si kucing dan kita harus melingkari si kucing untuk mengambil sendal kita yang ada di dalamnya, tapi jangan sampai tersentuh si kucing karena kalo tersentuh, tamat sudah riwayatmu! Kamu harus masuk ke lingkaran tersebut menggantikan si kucing. Hayo! Jika sendal tersebut sudah berhasil kamu ambil, maka kamu harus bersiap-siap segera menyembunyikannya. Sendal yang tak bisa diambil kembali pemiliknya atau sendal satu-satunya yang tersisa di lingkaran adalah sendal si kucing, jadi pemain yang sandalnya masih ada di dalam lingkaran berubah menjadi kucing! Miaw!
Setelah itu, kucing harus mencari sandal yang disembunyikan sampai semuanya ketemu, jika semua sendal telah ditemukan, sendal pertama yang ditemukan si kucing adalah sendal yang pemiliknya akan menjadi kucing berikutnya. Mengasyikan, bukan?
Iya sih asyik, tapi permainan ini sungguh beresiko, makanya kalau bermain ucing sendal ini, teman-teman saya suka memakai sendal bekas, jadi hilang pun tak masalah. Nah, sialnya saya adalah malah memakai sendal baru dan apesnya lagi malah hilang. Makanya, jangan pamer! Hahaha. Saat sendal saya hilang itu, saya menyembunyikannya dibalik sebuah gerobak, saya ingat sekali memang menyimpannya disitu. Namun, si kucing belum juga menemukan sendal saya. Saya tertawa puas karena sendal saya tersembunyi dengan aman. “Taluk? (Nyerah?)ucap saya sambil tersenyum nakal ke arah teman saya itu. Dia pun mengiyakan dengan muka masam. Baiklah, saya pun berlari menuju gerobak tadi “Disini, tau!” ujar saya. Namun, ternyata eh ternyata… tidak ada! Sendal saya hilang! Saya mencari ke sekeliling gerobak itu, teman-teman saya turut mencari, bukan hanya si kucing. Sampai hari menjelang maghrib, si sendal kaca Cinderella itu belum juga ditemukan. Risau, bingung, sedih, dan takut dimarahi mama adalah perasaan yang saya rasakan saat itu. Akhirnya, saya pun pasrah dan melepas kepergian sendal kesayangan saya. Saya pun pulang ke rumah dengan sebelah kaki nyeker. Mirip sekali seperti Cinderella. Sayangnya, tak ada pangeran yang mencari sendal saya. Keringat, bau asem, dan muka kucel adalah gambaran saya dan teman-teman saya seusai bermain ucing sendal. Tak apalah, itu tanda bahagia.

Masa kecil memang masa yang paling bahagia untuk dikenang, masa dimana kita tak memiliki beban dan hidup hanya untuk bahagia saja. Seiring berjalannya waktu, sekolah, bangun pagi tiap hari, memiliki PR, ulangan, raport adalah beban pertama yang saya rasakan. Makin kesini, beban itu bukannya menghilang, malah semakin membesar dan ternyata masa yang indah itu pun tak akan pernah bisa terulang lagi. Saya hanya dapat mengenang masa kecil yang indah itu.
Namun ternyata, masa bermain yang menurut saya indah itu tidak turut serta dirasakan anak-anak di zaman sekarang. Teknologi ‘membunuh’ semuanya. Sekarang, mereka lebih senang bermain lewat benda yang dinamakan benda pintar itu. Download, install, uninstall, tap, touch, swap, dan sebagainya adalah kata-kata yang familiar bagi mereka. Untungnya, saya baru mengenal benda benda pintar itu ketika SMP bahkan beranjak ke SMA, sehingga saya tak perlu menghabiskan masa kecil dengan benda pintar itu karena sesungguhnya masa kecil saya seribu kali lebih bahagia di bandingkan masa kecil yang dihabiskan hanya dengan bermain di benda pintar itu. 



Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa.


12 comment:

Mila hanifa mengatakan...

Pengen dong kembali ke masa dimana menangis karna jatoh, atau gak masa pasirik-sirik nama emak babeh huhu

Rhena Indria mengatakan...

HUAAAA MILA! Sekarang mah menangisnya karena apa? udah beda ya:)) hehe

Santi Dewi mengatakan...

permainan yg disebutkan di atas, seperti oray2an dll benar2 mengingatkan saya akan masa kecil dimana saya pernah memainkan permainan tsb :)

Rhena Indria mengatakan...

Hehehe iya, oray-orayan permainan legendaris. :) Jadi kangen memainkannya nggak, mbak? :) Terima kasih udah baca

Amir mahmud mengatakan...

Kalo saya sih sukanya main layangan, maklum saya cowok. Tapi uniknya permainan ini masih eksis sampai sekarang. Cek di amir-silangit.blogspot.co.id/2016/01/mengenang-era-90-dengan-memainkan.html?m=1 Btw sukses ya buat GA nya. Terimakasih :D

Nchie Hanie mengatakan...

ahhh jalan2 baca artikel permainan masa kecil,jd inget dlu.
Sukanya main lompat tali..

Rhena Indria mengatakan...

Iya ya, anak laki-laki mah layangan, kelereng hehehe. Seru ya permainan-permainan zaman dulu. Terima kasih, sukses juga yaa!

Rhena Indria mengatakan...

Hihi kalo aku malah nggak bisa main lompat tali hahaha. Makasih udah baca, mbak!

Lidya Fitrian mengatakan...

ngeri hilang sendalnya sebenrnya ya hehehe. Thena Orang sunda ya ucing sendal ini soalnya dari bahasa sunda. Terima kasih sudah berpartisipasi ya

Rhena Indria mengatakan...

Wah, ada mbak Lidya nya! :D Makasih udah baca :( Iya, hilang sendal jadi kayak Cinderella:( Iya, saya orang Sunda.

pungky prayitno mengatakan...

Aku taunya ucing sumput, baru denger nih ucing sendal :D

Rhena Indria mengatakan...

Huahaha, rame loh. lebih rame dari ucing sumput. Main yuk? :))