Rabu, 22 Februari 2017

Review: Milea, Suara dari Dilan

Setelah hatam baca kedua seri buku Dilan (Dia adalah Dilanku tahun 1990 dan Dia adalah Dilanku tahun 1991), akhirnya aku bisa baca buku ketiganya juga, Milea: Suara dari Dilan. Sebenarnya baca bukunya udah selesai dari dua bulan lalu, tapi baru inget kalau ini belum direview hehe. Buku ini adalah buku pertama yang aku baca di tahun 2017 dan membaca buku ini merupakan awal yang baik menurutku karena buku Pidi Baiq ini jadi buku yang aku favoritkan. Dengan penuh rasa penasaran akan apa yang bakal dikatakan Dilan di bukunya yang ini, aku pun membacanya dengan antusias dan buku ini selesai kubaca dalam semalam saja.



Setelah nangis-nangis baper akibat baca Dilan yang kedua, aku ngerasa jadi kebal kalau misalkan harus nangis lagi baca buku yang ini, tapi ternyata aku gak sampai nangis baca buku ini. Hanya saja, nyesek! Hati aku beneran terenyuh baca ceritanya, aku bisa mengatakan kalau cerita Dilan dan Milea ini jadi cerita romance favoritku! Berhubung buku ini dikisahkan dari sudut pandang Dilan, buku ini jadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku dan pembaca lainnya di bukunya yang kedua.

Di buku ini pun, Dilan nggak cuma nyeritain tentang hubungannya dengan Lia aja. Kebanyakan dia justru ceritain ayahnya, ibunya, dan temen-temennya. Cerita tentang mereka yang belum Lia ungkapin di buku sebelumnya. Gimana tegasnya ayah Dilan, pak Ical. Juga, gimana lovely nya si Bunda. Semuanya lebih jelas diceritain dari sudut pandang Dilan.

Dilan pun nggak banyak ngulang cerita-cerita yang udah diceritain di buku kesatu atau keduanya sama Lia. Dilan cuma bilang ‘…seperti yang Lia ceritakan di bukunya yang kedua’. Padahal pengen tau gimana tanggapannya dia.

Kalau di dua buku sebelumnya, settingnya di Bandung, di buku ketiga ini ada juga bagian waktu Dilan ke Jogja, masa-masa Dilan nyari kuliah. Dan dari perjalanan itu, kita tau bahkan setelah Dilan putus dan gak berhubungan sama Lia pun, Dilan masih mikirin Lia!

Puncak bapernya baca buku ini adalah ketika Dilan seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca di buku keduanya, waktu bagian Lia nelpon Dilan malem itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa Dilan nyerah gitu aja waktu diputusin Lia dan hal-hal lain yang tidak diceritakan Lia di kedua bukunya terungkap disini. Hm, dan semuanya emang salah paham aja! Ah! SALAH PAHAM!

Aku baca halaman perhalaman buku ini sambil berandai-andai.

 ‘Andai, Dilan dulu nanya langsung ke Lia, jangan malah diem-dieman.’
‘Andai, Lia juga ngomong ke Dilan waktu dia liat Dilan sama Risa.’
‘Andai, dulu Dilan sama Lia ngomong dan jujur satu sama lain, mungkin mereka masih bersatu’
Andai dan andai.

Aku nggak bisa bayangin gimana ada di posisi Dilan atau Milea. Mungkin, mereka masih saling cinta, tapi mereka baru tau jawaban-jawabannya setelah masing-masing ada yang punya. Nyesek! Nggak ada kata lain yang menggambarkan kesan setelah baca buku ini selain nyesek! Lewat buku ini, aku jadi belajar banyak kalau komunikasi dalam sebuah hubungan itu penting, penting banget! Karena tanpa komunikasi yang baik, kesalahpahaman itu gampang banget terjadi. Jangan sampe kejadian kaya Dilan dan Lia ini. Se-nyesel apa coba mereka?

Lewat buku ini, kita juga sedikit tau gimana menghadapi perempuan dari sudut pandang laki-laki. Ternyata, laki-laki pun – untuk beberapa kondisi – lebih senang diam dan memendam masalah yang dia rasain, kaya Dilan ini. Dan ya, sebagai perempuan, kita kadang gengsi kalau ngomong duluan, maunya laki-laki yang ngomong duluan. Kaya Lia ini, mana mungkin dong Lia nanya ke Dilan waktu itu soal Risa, apalagi posisi mereka saat itu udah jadi mantan. Perempuan mana yang gak gengsi nanya kayak gitu? Ah tapi kan..
Ada bagian di buku ini yang bikin aku merinding sekaligus hampir nangis, waktu bunda mengungkapkan kerinduannya sama Lia. “Dilan, Bunda rindu Lia”

Seperti yang udah kita tahu di kedua bukunya kalau Lia ini deket banget sama si Bunda, jadi waktu Dilan putus sama Lia, bukan cuma Dilan yang ngerasa kehilangan, tapi Bunda juga.

5/5 stars dari aku buat buku ini. Aku bener-bener suka! Walaupun ceritanya gak berakhir bahagia, tapi yah namanya juga realita. Justru menurutku dari kisah Dilan-Milea ini, banyak pelajaran yang bisa kita ambil supaya gak bernasib sama kayak Dilan dan Milea. Ah ya, buat yang udah baca Dilan 1 sama 2, harus banget baca buku ini, karena kalau engga, mungkin kamu ngerasain galau berkepanjangan kayak yang aku rasain sebelum baca buku ketiga ini! Soalnya buku kedua tuh kayak pertanyaan dan yang ini jawabannya. Jadi harus baca deh!

Mungkin buku ini jadi penutup romansa Dilan dan Milea ya? I just wanna say thank you buat surayah Pidi Baiq yang sudah mengenalkan karakter Dilan dan Milea lewat bukunya! Semoga surayah semakin aktif berkarya dan membuat Dilan Dilan yang lain! Semoga Dilan dan Milea nya juga sama-sama bahagia di kehidupan yang mereka jalanin – terlepas dari siapapun Dilan itu.


Minggu, 19 Februari 2017

Review: Mikuya Ramen Tori Kara Flavor

Setelah kemarin dunia perkulineran dihebohkan dengan kehadiran Samyang dari Korea, sekarang makanan-makanan sejenis pun mulai menjamur dipasarkan brand mie di Indonesia, salah satunya Nissin. Setelah punya ramen andalannya, Gekikara Ramen, sekarang Nissin kembali berinovasi menciptakan varian ramen terbarunya yaitu Mikuya Ramen!


Pertama kali aku tau produk Mikuya Ramen ini waktu aku blogwalking, aku kira ini ramen dari Korea juga. Eh eh ternyata, produk lokalan pemirsa! Terus aku liat lagi deh review review lainnya dari produk ini dan ternyata katanya enak dan worth to try gitu.

Aku pun akhirnya tancap gas ke Indomaret terdekat dan syukurnya langsung nemu Mikuya nya, perjuanganku ke Indomaret pun nggak sia-sia. Hehehe. Harganya sekitar Rp. 7.500 waktu aku beli. Ada dua varian, yang kuah namanya Tori Kara Flavor dan yang goreng namanya Jya Jya Flavor. Kalau varian mie goreng dari Mikuya ini lebih mirip kaya Jjajjangmyeon, kecapnya banyak banget!

Tapi sekarang yang mau aku review yang kuahnya dulu ya. Jadi dalam satu bungkus Mikuya Ramen ini ada mie, bumbu, sayuran, dan minyaknya. Untuk mie nya sendiri, teksturnya agak berbeda dengan mie yang biasa, mie nya lebih tebel dan waktu direbus lebih smooth.



Step pertama, aku rebus mie dan sayurannya. Waktu mie dan sayurannya direbus, wanginya semriwiiing, enak banget. Sambil direbus mie nya, aku masukin bumbu dan minyaknya. Bumbunya itu kayak bumbu santan gitu, serbuk putih. Aku rebus sesuai petunjuk penyajiannya selama empat menit dan voilaaa! Mikuya Ramen siap disajikan!




Sebelum direbus tuh mie nya kayak keliatan kecil, tapi pas jadi ternyata banyak banget mie nya. Kuahnya kental dan rasanya pun enak gurih tapi ada manis-manisnya juga gitu. Aku kira mie nya bakalan pedes gitu, tapi gak pedes sama sekali kalau di lidah aku, kecewaaa. 

Kalau dibandingin sama Gekikara, masih menang Gekikara sih, selain harganya lebih murah, rasanya juga lebih nendang Gekikara. Lidah orang beda-beda sih ya, tapi Mikuya ini worth to try kok. Jangan takut juga karena ini emang udah halal. Jadi buat yang nyari ramen halal, ramen ramen dari Nissin ini bisa jadi solusinya.

Tapi masih penasaran sama mie gorengnya Mikuya ini sih, next bakalan nyobain yang Jya Jya Flavor deh.

Sabtu, 18 Februari 2017

Bernostalgia dengan Seteguk Kesegaran Pop Ice

Masa kecil menurut aku adalah sebuah fase dimana apapun yang aku lakukan saat itu selalu spontan dan tak terduga. Dalam arti, ketika melakukan sesuatu, aku nggak pernah mikir panjang buat ngelakuin hal itu, nggak tau gimana konsekuensi atau akibatnya. Makanya, buat aku, masa itu adalah masa yang indah.

Rabu, 15 Februari 2017

Temukan Inspirasi dari Segelas Manisnya Pop Ice

Pernah nggak sih kalian ngadepin ‘stuck’ waktu lagi ngerjain sesuatu? Keadaan dimana kalian mengalami fase ‘dead lock’, nggak bisa maju ngerjain project yang lagi dikerjain, entah itu ngerjain tugas, ngarang cerita, ngelukis, atau kegiatan-kegiatan lainnya.

Aku adalah orang yang cukup sering ngalamin hal kayak gini. Lagi enak-enak ngetik, taunya kayak ada kabel putus di otakku, semuanya buyar. Imajinasi yang udah dirangkai sedemikian rupa itu hilang. Disitulah aku mulai ngerasa stress, apalagi kalau project yang aku kerjain itu udah mendekati deadline. Gawat!

source: pinterest

Tapi, beberapa waktu belakangan ini aku punya solusi ngadepin masalah ini. Saat kondisi itu terjadi, mungkin ada beberapa bagian di otak kita yang agak ‘lelah’, makanya kita bisa stuck dan susah buat mikir. Kalau lelah, pasti harus ada treatment khusus dong biar si otak ini nggak lelah dan kerjaan kita jadi  lancar, iya nggak?

Kalau badan kita lelah atau capek, pasti kita juga nggak biarin gitu aja kan karena bakalan menghambat aktivitas kita. Nah, otak kita pun begitu, perlu treatment khusus biar macet di otak kita lancar lagi. Analogikan hal ini dengan suasana macet jalan raya. Ketika kita udah nggak bisa mikir lagi, itu artinya lalu lintas otak kita lagi macet, makanya perlu ada suatu tindakan buat ngelancarin lalu lintas di otak kita. Gimana caranya?

Bhinneka Tunggal Ika, katanya...

Bhinneka – Tunggal – Ika, tiga kata yang saya pelajari dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ketika saya menginjak bangku kelas dua sekolah dasar. Artinya berbeda-beda tapi tetap satu tujuan, begitu kata guru saya.

source: https://www.pinterest.com/pin/122512052336663103/

Kala itu, untuk membuat seluruh muridnya mengerti akan maksud dari tiga kata tersebut, guru saya mengikatnya dalam sebuah kata bernama toleransi. Lebih jauh, ia menjelaskan arti toleransi itu artinya menghargai perbedaan orang lain, entah itu perbedaan suku, ras, atau agama. Di buku pelajaran pun, bab mengenai Bhinneka Tunggal Ika tak jauh-jauh dari paragraf seperti: Ujang dari Sunda, Tomo dari Jawa, dan Ucok dari Batak, walaupun mereka berbeda-beda mereka tetap berteman dekat dan tidak membeda-bedakan.

source: http://nahdliyyah.org/2015/04/bhinneka-tunggal-ika.html

Rasanya, bagi semua orang yang lahir dan hidup di tanah air Indonesia, semboyan Bhinneka Tunggal Ika ini pernah mereka dengar, bahkan pelajari, entah itu dalam bentuk sebuah pelajaran bernama Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan atau – generasi ibu bapa saya menamainya dengan Pendidikan Moral Pancasila. Rasanya guru-guru PKn pun akan tetap mempermudah pengertian semboyan negara ini lewat contoh bernama toleransi yang saya bahas di atas.

Buat saya, tiga kata dalam Bhinneka Tunggal Ika lebih mudah dimengerti ketimbang pelajaran Aljabar matematika. Jadi, kalau pemahaman kita tentang pelajaran Aljabar bisa lupa saking rumitnya, apa hal sama bisa terjadi juga pada kita dalam memahami Bhinneka Tunggal Ika?

Kadang, mengimplementasikan lebih sulit dari sekedar mengetahuinya, mungkin hal yang sama sedang terjadi pada bangsa kita. Bhinneka Tunggal Ika yang digaung-gaungkan itu nyatatanya seperti cukup diketahui saja – tidak untuk diterapkan filosofinya pada perilaku bernegara.

Belakangan ini, merasa bosan, miris, sekaligus cukup kesal melihat tayangan dan pemberitaan di televisi dan media lainnya yang itu itu saja. Media pun berlomba-lomba menyajikan headline semenarik dan semembakar mungkin. Sialnya, belum selesai satu masalah, masalah lain malah semakin menyebar dan membesar. Bak melempar api ke tumpukan busa, merembet. Salah satu dua kata ternyata bisa sefatal ini akibatnya, memecah belah negeri. Tak salahlah jika ada peribahasa Mulutmu, Harimaumu.

Namun, untuk apa ada polisi, hukum, dan undang-undang jika masih mau main hakim sendiri?

Mengapa malah lebih semangat dalam membuat api berkobar lebih besar dibanding mencoba memadamkannya? Jika memadamkannya sulit, setidaknya diamlah. Jangan malah menyulut api dan menimbulkan pertengkaran-pertengkaran lainnya. Melakukan tindakan seenaknya dan berlindung dibalik nama agama seolah mereka cukup suci, padahal agamanya tak pernah mengajarkan untuk berbuat kekerasan.

Indonesia bukan hanya ibu kota Jakarta, masih banyak pulau membentang dari Sabang sampai Merauke. Indonesia bukan hanya Muslim, masih banyak mereka yang ingin tenang ketika melakukan ibadah kepada Tuhannya.

Indonesia bukan hanya Jawa, masih ada Papua, Nusa Tenggara, Sumatera, dan lain-lainnya tak terkira.

Lantas, jika mereka berbeda dari kita, apa kita memiliki hak untuk membenci? Apa kita seolah-olah menjadi yang paling sempurna? Apa kita berhak menamai mereka sebebas mulut berkata?

Mengapa mudah sekali terprovokasi? Mengapa kecepatan jari tangan mengetik kata-kata kebencian lebih cepat daripada menggunakan otak untuk berpikir? Mengapa semudah itu menuduh, menghakimi, dan menyebar fitnah? 

Mengapa harus dengan kekerasan, cacian, makian, dan hinaan? Bukankah kita bersaudara? Bukankah Bhinneka Tunggal Ika? Ah, Bhinneka – Tunggal – Ika, katanya...

Jumat, 10 Februari 2017

Review: The Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd

Blurb

"The bees came in the summer of 1964, the summer I turned fourteen and my life went spinning off into a whole new orbit, and I mean whole new orbit." Living on a peach farm in South Carolina with her harsh, unyielding father, Lily Owens has shaped her entire life around one devastating, blurred memory the afternoon her mother was killed, when Lily was four. Since then, her only real companion has been the fiercehearted, and sometimes just fierce, black woman, Rosaleen, who acts as her "stand-in mother."

When Rosaleen insults three of the deepest racists in town, Lily knows it's time to spring them both free. They take off in the only direction Lily can think of, toward a town called Tiburon, South Carolina—a name she found on the back of a picture amid the few possessions left by her mother. There they are taken in by an eccentric trio of black beekeeping sisters named May, June, and August. Lily thinks of them as the calendar sisters and enters their mesmerizing secret world of bees and honey, and of the Black Madonna who presides over this household of strong, wise women. Maternal loss and betrayal, guilt and forgiveness entwine in a story that leads Lily to the single thing her heart longs for most. The Secret Life of Bees has a rare wisdom about life—about mothers and daughters and the women in our lives who become our true mothers. remarkable story about the divine power of women and the transforming power of love, this is a stunning debut whose rich, assured, irresistible voice gathers us up and doesn't let go, not for a moment. It is the kind of novel that women share with each other and that mothers will hand down to their daughters for years to come.


Mengisahkan seorang gadis empat belas tahun, Lily Owen yang tinggal bersama seorang ayah temperamental, T. Ray, Lily harus hidup dengan penuh rasa takut. Sang ibu, Deborah Fontanel, meninggal ketika usianya baru menginjak empat tahun. Kematian ibunya pun menjadi sesuatu yang penuh misteri. Sampai suatu hari, Lily menemukan benda-benda peninggalan sang ibu dan benda itulah yang mengantarkan Lily sampai ke Tiburon, South Carolina. Lily kabur dari rumah bersama wanita kulit hitam yang mengasuhnya sejak kecil, Rosaline. Dengan keyakinan selembar foto bertuliskan Tiburon, SC, Lily nekat pergi ke Tiburon, kota yang pernah dikunjungi ibunya, tanpa tahu pasti apa tujuannya. Satu hal yang Lily yakin, kepergiannya ke Tiburon bisa mengungkap jejak sang ibu dan misteri dibalik kematian sang ibu. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan kakak beradik kulit hitam May, June, dan August yang menurutnya dapat mengungkap kematian sang ibu.

Lily pun tinggal di rumah tiga bersaudara ini dengan identitas sebagai Lily William. Lily mengaku sang ibu telah meninggal dan ayahnya meninggal karena kecelakaan. Lily mengaku singgah ke Tiburon untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Virginia bertemu bibinya. Lily dan Rosaline pun tinggal di pink house dan membantu August menjadi seorang bee-keeper. 

Menjadi seorang bee-keeper, Lily banyak belajar dari kerumunan lebah-lebah yang sangat bergantung pada ratu lebah. Kerumunan lebah yang menakutkan bagi Lily, ternyata memiliki banyak sekali rahasia di dalamnya. Tinggal sebagai satu-satunya orang putih di pink house pun membuat Lily banyak belajar. Mengapa hanya karena beda warna kulit bisa membuat semuanya sangat berbeda?


Thoughts

Novel ini adalah novel yang cukup menghangatkan hati dan penuh inspirasi menurutku. Bagaimana masa remaja Lily yang penuh rintangan tinggal dengan ayah yang temperampental. Sosok ayah yang ia harapkan bisa melindunginya ketika sang ibu tiada justru malah menjadi ayah yang tidak pernah Lily harapkan. Di novel ini pun, Lily bercerita kalau ia memanggil sang ayah ‘T-Ray’ bukan ‘Daddy’. 

Aku baca versi asli buku ini, bukan terjemahannya, untuk memenuhi target membaca 25 buku Bahasa Inggrisku tahun ini. Dan aku rasa membaca buku ini merupakan pilihan yang tepat karena bahasanya tidak terlalu rumit dan mudah dipahami berhubung ini buku tahun 2000-an. Tapi, buku ini sudah ada terjemahannya, kok. Selain itu, pilihan sudut pandang novel ini oleh Sue Monk Kidd pun sangat tepat karena dengan sudut pandang orang pertama, pembaca merasa bisa memposisikan dirinya sebagai seorang Lily Owen.

Beberapa jokes pun disisipkan di novel ini membuat novel ini semakin menarik. Part terbaik di novel ini menurutku ketika Lily mengetahui misteri dibalik kematian sang ibu. Lily yang selama ini memiliki gambaran sendiri tentang ibunya sebagai ibu yang penyayang dan lembut dibuat galau setelah mendengar cerita August tentang ibunya. Selain itu, persahabatan Lily dan Zach pun membuat ceritanya lebih menarik, bagaimana Zach dan Lily yang sama-sama saling menyukai tapi lantaran perbedaan warna kulit mereka harus berbesar hati memendam perasaan mereka dan tak lebih hanya sepasang sahabat. Aku juga suka saat June yang keras hati dan awalnya tidak menyukai Lily berubah menyayangi Lily.


Aku merekomendasikan buku ini buat kalian yang lagi cari novel yang heart-warming atau novel yang berkisah tentang anak perempuan dan ibunya. Ah ya, novel ini pun sudah difilmkan dan dibintangi oleh bintang terkenal seperti Dakota Fanning


For the rate itself, rate-ku buat novel satu ini 3.5/5. Actually, I like it Lily's stories so much, but I don't really know, for me it's just... maybe I'll watch the movie later. See yaaa!

Rabu, 08 Februari 2017

Review: Eleanor & Park by Rainbow Rowell

Blurb:

Two misfits.
One extraordinary love.

Eleanor… Red hair, wrong clothes. Standing behind him until he turns his head. Lying beside him until he wakes up. Making everyone else seem drabber and flatter and never good enough… Eleanor.
Park… He knows she’ll love a song before he plays it for her. He laughs at her joke before she ever gets to the punch line. There’s a place on his chest, just below his throat, that makes her want to keep promises… Park.

Set over the course of one school year, this is the story of two star-crossed-sixteen-year-olds – smart enough to know that first love almost never lasts, but brave and desperate enough to try.


Mengisahkan seorang wanita berbadan besar, berambut merah, dengan gaya nyentriknya bernama Eleanor yang harus hidup penuh penderitaan saat sang ibu bercerai dengan ayah kandungnya dan memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang pria temperamental bernama Richie, ia harus hidup serba kekurangan, apalagi karena ia memiliki banyak adik. Sosok Richie yang temperamental pun membuat Eleanor tidak nyaman berada di dalam rumah, baginya, rumah tak ubahnya seperti neraka ketika ada Richie. Hidupnya pun semakin menderita karena kerap kali ia menjadi bahan bully karena postur tubuhnya yang dianggap aneh dan berbeda dengan wanita-wanita di sekolahnya. Sampai suatu hari, di bus sekolah, ia bertemu seorang pria Asia yang ia kira akan sama seperti orang-orang di bus itu, membully dirinya. 

Park, nama pria itu, justru malah membuat Eleanor merasa nyaman. Berawal dari membaca bersama untuk menghindari kebosanan di dalam bus, lama kelamaan mereka merasa tertarik satu sama lain, mendengarkan lagu bersama, hingga Park menggenggam tangan Eleanor di dalam bus. Eleanor pun seperti mendapat rollercoaster baru dalam hidupnya. Kisah romansa cinta pertama yang seringkali Eleanor dengar ternyata berbeda dengan apa yang dialaminya. Eleanor yang besar dan berpenampilan aneh merasa dirinya tak pantas berdampingan bersama Park. Keluarga Eleanor yang semrawut pun sangat bertolak belakang dengan keluarga Park yang sangat harmonis, membuat Eleanor menjadi minder. 


Thoughts:

Setelah menahan rasa penasaran begitu lama akan novel karya Rainbow Rowell satu ini, akhirnya saya bertemu waktu yang tepat untuk membacanya. Ternyata novel ini memang benar-benar menarik. Cerita yang disuguhkan pun sangat seru. Konflik yang dihadirkan di novel ini pun walau ringan tapi tetap menarik, bagaimana Eleanor harus bertahan hidup di tengah-tengah keluarga yang tidak harmonis serta kisah cinta pertamanya yang penuh rintangan. Tapi ada juga beberapa part yang menunjukan how sweet they are! Membaca buku berdua dan membahasnya adalah kencan ala Eleanor dan Park bikin saya geregetan. Selain itu, penggunaan sudut pandang yang bergantian antara Eleanor dan Park pun sangat saya suka, jadi tau apa yang dirasakan Park dan Eleanor.

Entah kenapa, saya seperti memikirkan Kim Go Eun waktu main di Cheese in the Trap sebagai Eleanor haha mungkin karena rambutnya kali ya. 


Park di novel ini pun tidak digambarkan sebagai seorang yang maha sempurna, dia juga sama seperti remaja lain seusia teman-temannya. Bahkan, part disaat Park berantem sama temennya buat ngebela Eleanor juga menunjukan dia sama seperti anak remaja biasa yang masih labil dan emosian. Anyway, ini mengingatkan saya sama drama Korea The Heirs, waktu Kim Tan berantem sama Young Do. Hahaha.

Eleanor & Park ini jadi bacaan yang menyenangkan buat saya. Ah, ya satu lagi yang bikin saya jatuh cinta sama novel ini adalah banyaknya kalimat di novel ini yang quote-able, jadi saya suka hehe.

“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something” - Park

Satu-satunya hal yang saya ngga suka dari novel ini adalah endingnya yang whaaaa! I don’t believe it. Ekspresi saya setelah menghabiskan buku ini pun be like ‘cuma segini aja, nih?’. Walaupun berakhir happy ending buat Eleanor karena dia aman dari Richie, tapi rasanya gak cukup gitu! Haha. Sekaligus rasa penasaran saya masih tersisa setelah membaca karya Rainbow Rowell satu ini, saya bertanya-tanya tiga kata terakhir apa yang dikirim Eleanor untuk Park lewat postcardnya. Apakah I Love You? Ah, gereget deh endingnya.


4/5 stars buat karya pertama Rainbow Rowell yang saya baca. Saya jadi ketagihan baca karya-karya Rainbow Rowell lainnya. Next, saya bakal baca Fangirl, Attachment, dan karya lainnya Rowell. Hihihi.

Selasa, 07 Februari 2017

Review: Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991



Judul: Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: Pastel Books
Halaman: 344
Tahun terbit: 2015

Blurb:


"Jika aku berkata bahwa aku mencintainya, maka itu adalah sebuah pernyataan yang sudah cukup lengkap."―Milea

"Senakal-nakalnya anak geng motor, Lia, mereka shalat pada waktu ujian praktek Agama."―Dilan

Thoughts: 

Setelah dibuat jatuh cinta sama sosok Dilan di buku pertama Dilan karya Pidi Baiq ini, akhir tahun 2015 lalu, saya akhirnya baca buku keduanya. Dia adalah Dilanku tahun 1991 ini adalah seri kedua atau lanjutan dari Dia adalah Dilanku tahun 1990. Saya baca buku keduanya ketika saat itu buku ketiganya udah muncul, tapi saya malah baru baca yang keduanya. Hahaha.

Akhir dari buku pertamanya kan waktu Dilan sama Milea resmi pacaran, nah buku kedua ini mengisahkan cerita-cerita Dilan dan Milea setelah resmi berpacaran. Di awal-awal bab, kita masih disuguhi manis dan romantisnya sosok Dilan seperti di buku yang pertama. Saya pun masih dibuat jatuh cinta sama sosok Dilan ini di buku keduanya. Dilan yang lucu, nakal, tapi loveable ini bikin saya senyum-senyum kesenengan baca bukunya.

Tapiiii, masuk ke pertengahan buku ini, hati saya dijungkirbalikan! Ternyata bener ya kalau masa paling indah waktu pacaran itu pas PDKT doang. Hal yang sama pun terjadi sama hubungan Dilan sama Milea ini. Walaupun Lia sayang banget sama Dilan tapi Lia juga dibuat galau sama nakalnya Dilan. Lia terpaksa harus bertindak. Dan berkali-kali ancaman putus itu diungkapkan Lia dengan tujuan mengancam Dilan kalau dia masih kekeuh main sama geng motornya itu.

Milea nggak minta banyak, dia cuma pengen Dilan jadi remaja biasa dan meninggalkan dunia geng motornya itu.  Sebagai wanita, aku bisa ngerasain gimana galaunya Lia punya pacar kaya Dilan ini. Lia pun ngelakuin ini pasti karena dia sayang sama Dilan, nggak mau terjadi apa-apa sama Dilan.

“… Bukan apa-apa, aku takut dia akan mendapat hal buruk oleh karena itu.” - Milea

Tapi ya, setiap orang punya prinsipnya masing-masing. Nggak semua orang mau diatur-atur, bahkan untuk kebaikan dirinya sendiri. Aku sampe nangis-nangis bacanya saking galaunya :’)

“Aku tidak ingin mengekangmu, terserah! Bebas kemana engkau pergi, asal aku ikut” - Milea

Sikap Milea yang seolah mengekang dan over-protective bikin Dilan risih juga dan sekalipun Dilan cinta banget sama Lia, akhirnya Dilan nyerah juga sama sikapnya Lia yang gak sejalan sama keinginan Dilan. Selanjutnya, Dilan dan Milea pun putus.

“Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah” - Dilan

Aku juga bisa ngerasain gimana galaunya Dilan.  Dilan sayang sama Milea, tapi dia juga punya hidupnya sendiri.  Dilan nggak mau masa remajanya diatur-atur. Mungkin Dilan pikir, si Bunda aja nggak pernah ngekang, tapi kok pacarnya sendiri malah kayak gitu.

“Dilan juga sama, waktu itu masih remaja, yaitu masih anak remaja yang harus dimaklumi kalau punya jiwa pemberontak dan tidak suka diatur. Yaitu, anak remaja yang masih harus dimaklumi kalau kadang-kadang tidak bisa menahan keinginannya. Yaitu, anak remaja yang masih harus dimaklumi kalau unek-unek di dalam hatinya suka berubah menjadi rasa dendam karena disimpan” – Milea


Thoughts:

Baca bukunya yang kedua ini bener-bener berbeda dari kesan setelah membaca buku pertama, bener-bener kecewa. Walaupun kata-kata di buku ini dibuat sesederhana mungkin oleh si surayah, tapi maknanya beneran ngena ke hati. Baper banget bacanya.  

Di buku kedua ini, banyak karakter-karakter baru yang muncul. Yugo, saudara jauh Lia yang pengen ke dia dan jadi awal dari kesalahpahaman Dilan dan Milea. Ada juga pak Dedi, guru Lia yang juga pengen ke dia dan suka ngegombalin terus. Dan, mas Herdi, suaminya Milea. Iya, suami. Gak salah baca, kok.

Entah kenapa, aku jadi sebel sama Dilan karena dia nggak bisa mertahanin gitu. Ketika Lia mutusin dia, kayak gak ada tindakan dari dia buat ngejar Lia. Walaupun, di buku ketiga diceritain kenapa Dilan kayak gini. Tapi kan…

Aku pun agak sebel sama Lia yang terlalu mengekang! Ya tau sih, namanya juga sayang, takut Dilan bernasib sama seperti Akew. Aku pun ngerti mereka masih remaja, makanya gitu. Tapi kan…
Ah pokoknya hatiku amburadul, sedih, nangis abis baca ini. Tapi dari buku ini, aku jadi belajar kalau takdir itu lebih kuat dari keinginan kita. Dilan pengen Milea, Milea pun pengen Dilan, tapi kalau bukan takdirnya harus bersatu, ya mau digimanain lagi?

4.5/5 stars buat buku ini walaupun bikin aku nangis :’) Surayah, jahat…


Pop Ice, Milkshake Favorit Kapanpun dan Dimanapun


Di zaman yang serba instan kayak sekarang ini, kita pasti cenderung memilih sesuatu yang lebih simple buat kita. Ya kan? Kayaknya hal apapun sekarang serba dibikin simple yang tujuannya buat memudahkan urusan kita. Contoh kecilnya aja kayak baca koran. Dulu kalau kita mau baca koran, kayaknya mindset nya tuh ribet dan rusuh gitu ya, tapi sekarang koran bisa kita baca dimanapun dan kapanpun, akses kita buat dapet informasi jadi semakin mudah.

Ah, selain transformasi koran yang aku nikmati sekali manfaatnya, kemudahan dalam menyantap makanan dan minuman favoritku karena disajikan dalam bentuk instan pun jadi sesuatu yang berguna banget buatku! Zaman dulu kayaknya kalau pengen minuman enak tuh harus ribet-ribetan dulu, kayak harus beli dulu buah-buahannya, beli gula, beli ini dan beli itu. Tapi sekarang, udah nggak perlu lagi deh ribet-ribet buat nikmatin segelas minuman yang bisa ngelepas dahaga sekaligus nyegerin tenggorokan kamu.

Udah banyak banget produk minuman instan yang dijual di pasaran dan bisa kamu pilih sesuai selera kamu, tapi yang jadi favorit aku sih ya Pop Ice Idolaku, dongPasti telinga kalian udah akrab banget denger milkshake satu ini, ya kan? Yap, Pop Ice ini udah jadi milkshake favorit aku dari dulu karena rasanya yang enak dan nyegerin. Anyway, Pop Ice ini jadi minuman yang aku favoritin gara-gara Pop Ice ini bisa jadi temen kapanpun dan dimanapun! Sekarang aku bakalan share momen kebersamaanku bersama Pop Ice!