Sabtu, 06 Mei 2017

Review: Critical Eleven by Ika Natassa

   
Blurb:


 
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—
karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya 
terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. 
Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, 
dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, 
setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.
 Plot:
Bercerita tentang pertemuan Tanya Laetitia Baskoro dan Aldebaran Risjad di dalam pesawat tujuan Sydney, Anya yang biasanya duduk di sebelah om-om atau bayi yang sering menangis di setiap penerbangannya harus bersyukur karena di penerbangannya kali ini, ia duduk di sebelah Ale, cowok yang bikin Anya sedikit menaruh ekspektasi padanya.
Perjalanan Anya kali ini pun terasa special karena ia seperti menemukan sesuatu yang tak pernah ia temui di penerbangan-penerbangan sebelumnya, Ale.
Asiknya obrolan mereka selama terbang membuat Anya berharap sesuatu pada Ale, untungnya Ale ternyata meminta nomor handphone Anya yang menjadi awal mula cerita manis pahitnya Anya dan Ale dimulai. 

 Thoughts:

Setelah menanti-nanti bisa membaca novel ini dari tahun lalu, akhirnya kesempatan saya untuk membaca novel ini datang juga. Untungnya, saya berkesempatan membaca kisah Ale dan Anya ini sebelum filmnya mulai release di bioskop. Nyaris, beberapa hari lagi. Tapi tidak beruntungnya, karena imajinasi saya tentang Anya dan Ale tidak bisa bebas lagi setelah tau bahwa Reza Rahadian dan Adinia Wirasti akan memainkan peran Anya dan Ale. Jadi yang saya bayangkan ketika membaca novel ini ya mereka berdua. Hmm, kecewa.
Saya membaca novel ini dengan ekspektasi yang tinggi karena hype nya novel ini. Makanya, antusias sekali membacanya. Sayangnya, nggak sesuai yang saya harapkan sih sebenarnya. 
"Expectation is a cruel bastard, isn't it? It takes away the joy of the present by making us wondering about what will happen next." (p.17)
 
Anyway, novel ini adalah novel pertama Ika Natassa yang saya baca. Tapi terlepas dari ekspektasi saya, nggak butuh waktu lama buat saya untuk menyukai karya Ika. Gaya bertutur Ika dalam novelnya benar-benar membuat saya takjub. Smooth sekali dan jauh dari kata membosankan. Membaca novel ini benar-benar terasa nyata karena Ika Natassa mendeskripsikan suasana di setiap scene nya secara realistis, menunjukan kesungguhan Ika Natassa dalam membuat novel ini
Yang saya suka juga karena Ika ini bener-bener serius membangun karakter tiap tokohnya. Anya digambarkan sebagai seorang wanita karir super sibuk yang sangat pintar. Ika pun menunjukannya lewat novel ini, meyakinkan bahwa Anya bener-bener seperti itu.
Ale, si tukang minyak juga dideskripsikan bagaimana pekerjaannya sebagai tukang minyak yang harus hidup jauh dari Anya, terasa hidup.
Karakter Tara dan Agnes sebagai teman Anya juga membuat novel ini makin seru. Kebayang punya sahabat seperti Tara dan Agnes, bener-bener menyenangkan pasti.

Konflik yang dihadirkan di novel ini pun menarik, berkisah seputar konflik rumah tangga, bagaimana satu kalimat bisa membuat hubungan Ale dan Anya renggang selama berbulan-bulan. Kadang saya suka gereget juga sama karakter Anya yang terlalu melebih-lebihkan, well... saya mungkin bisa ngomong gitu karena belum pernah mengalami jadi Anya kali ya. Tapi, saya ngerti sih gimana konflik batin Anya. Dia tau dia salah dan kesalahannya ini juga gak dia pengenin, tapi bukannya nenangin kesedihannya Anya, justru Ale ini seolah-olah menyalahkan Anya. Di sisi lain, saya juga kagum sama karakter Ale yang gak gentar dan gak cape tetep jadi Ale yang biasanya walaupun Anya udah berubah bukan jadi Anya yang biasanya. 
Overall, saya menikmati sekali karya Ika Natassa satu ini, walaupun tidak sesuai ekspektasi Paling suka sama gaya penulisannya yang quote-able sekali. Salut juga karena bisa bikin novel ini jadi terkesan hidup. Kedepannya mau baca cerita-cerita Ika lainnya. Anyway, selamat menonton filmnya juga ya, beberapa hari lagi nih! Ehehe.

4.5/5 stars for Critical Eleven by Ika Natassa.

Menggugah Nafsu Makan dengan Semangkok Soto Lamongan

Beberapa hari ini, saya lagi mengalami fase dimana sering banget kebingungan milih makan. Salah-salah pilih makanan, udah deh nggak dimakan itu makanannya. Dua hari yang lalu, saya makan cuma sekali doang saking nggak ada nafsu buat makan. Itu pun saya makan karena makannya bareng temen-temen di kampus, kalau enggak diajak makan, ya ga makan kali ya. Hahaha. Perut emang laper tapi mulut nggak pengen ngunyah. Galau gitu deh aslinya.

Sabtu, 29 April 2017

Tentang Jurusan Kuliah Sastra Inggris

Sejak buat blogpost tentang pengalaman aku ikut SNMPTN, SBMPTN, dan ujian-ujian masuk PTN lainnya dua tahun lalu, beragam pertanyaan pun membanjiri akun social media punyaku. Pertanyaannya beragam, mulai dari yang nanya gimana biar lolos sampe nanya pertanyaan yang sebenernya jawabannya udah ada di website SNM atau SBM nya. Terus banyak juga yang nanya gimana sih kuliah di jurusan yang saat ini aku tempuh. Daripada aku jawab berkali-kali, akhirnya mendingan aku tulis disini deh biar lebih jelas. Oh ya, postingan ini aku tulis sesuai pengalaman aku ya selama hampir dua tahun kuliah di jurusan ini. Oh ya, mungkin juga bakal beda dengan jurusan yang sama di universitas lain. Ini buat petunjuk aja sih biar kamu sedikit tau tentang jurusan ini, apalagi buat yang berminat ngambil jurusan ini nantinya. Semoga bakalan berguna ya buat kamu! Aku bikinnya dalam bentuk poin-poin pertanyaan ya beberapa, supaya menjawab pertanyaan kalian! So, here it is…

Bakpia, Oleh-Oleh Wajib khas Jogja



Libur panjang telah tiba! 

Pada seneng kan nih bulan April ini banyak banget long weekend nya! Long weekend gini kalau cuma diem doang di rumah rugi dong, gaes! Mendingan long weekend nya dipake jalan-jalan kemana gitu, biar jiwa dan fikiran lebih fresh buat memulai hari-hari penuh kesibukan nantinya. Liburan nggak perlu ke luar negeri kok, di Indonesia pun banyak kok destinasi wisata yang unik, keren, dan mesti kamu kunjungin!

source: wonderful-tourism
Salah satu kota yang jadi destinasi wisata favorit  di musim-musim liburan kayak gini tuh, Jogja! Suasana di kota pelajar yang adem ayem dan teduh ini pas banget buat kalian yang mau nyari tempat buat ngedinginin fikiran. Gak cuma pemandangan yang bagus dan teduh, Jogja juga terkenal dengan kulinernya yang khas.  Selain gudeg yang jadi maskot kulinernya kota pelajar ini, ada juga Bakpia yang terkenal banget jadi oleh-oleh khas kalau kita ke Jogja! 

Bakpia adalah salah satu makanan yang khas dari Jogja. Kalau mampir ke Jogja tapi belum beli bakpia rasanya kurang afdol ya, gaes! Salah satu oleh-oleh yang ditanyain ke orang-orang yang abis pulang dari Jogja itu ya pastinya bakpia. Aku adalah salah satu orang yang demen banget nagih bakpia ke temen-temen yang baru pulang dari Jogja! Hahaha. Abisnya enak banget, sih!

source: pegi-pegi
For your information, guys! Bakpia ini asal mulanya sebenernya dari China. Namanya pun awalnya bukan bakpia, tapi Tou Luk Pia yang artinya kue pia kacang hijau. Salah satu daerah yang terkenal dengan bakpia nya di Jogja itu ada di daerah Pathuk. Nah makanya kita sering denger istilah Bakpia Pathuk, ya asal mulanya dari nama daerah Bakpia ini dibuat. Di Pathuk ini, Bakpia diproduksi sejak tahun 1984 yang kalau dulu dijualnya itu pake besek. Nah karena rasanya yang oke banget, bakpia ini mulai digemari dan jadi salah satu makanan yang dicari orang-orang kalau ke Jogja. Karena bakpia ini udah jadi semacam item di Jogja, bakpia pun sekarang dijual dengan rasa dan varian yang makin beragam. Toko-toko yang menjual bakpia di Jogja pun semakin menjamur.

Buat kalian yang ke Jogja, apalagi yang baru pertama kali main ke Jogja, pasti bakalan kebingungan dong gara-gara di sepanjang jalan Jogjakarta banyak banget yang jualan bakpia jogja ini. Mulai dari yang tokonya gede sampe yang tokonya kecil. Nah biar ga kebingungan, coba diintip deh beberapa rekomendasi toko bakpia yang harus kalian kunjungin kalau ke Jogja biar kalian gak kebingungan lagi. 

Dengan merogoh kocek sekitar 30.000-50.000 doang, kalian udah bisa bawa pulang sedus bakpia yang enak banget dan pastinya bikin kalian ketagihan dan pengen ke Jogja lagi! Jadi, buat kalian yang lagi di Jogja, jangan lupa mampir ke toko-toko ini dan borong bakpianya ya, gaes!

Rabu, 26 April 2017