Sabtu, 01 April 2017

Review Drama Korea: Tomorrow with You

Heyaaaa!

Happy April Fools Day! Hari ini udah dikerjain apa aja nih? Sebenernya yang mau ngibulin juga kenapa harus pas tanggal 1 April ya? Ketauan banget kan tuh lagi bohong. 
Anyway, kalau sekarang aku nggak akan bohong ke kalian sih. Tapi aku bakalan ngomongin drama yang baru aja selesai aku tonton. Yas! Tomorrow with You!

Sebenernya ini selesainya dari beberapa hari lalu, cuma baru aku review karena aku baru sempet download dan tonton. Tomorrow with You ini sebenernya jadi drama yang aku tunggu-tunggu, bahkan sebelum tayang. Soalnya aku emang udah kangen dan nungguin aktingnya Shin Min Ah sejak dia selesai main di Oh My Venus. Terus juga pas aku liat teaser nya kayaknya bakalan seru banget. Tapi, sayangnya, dramanya nggak memenuhi ekspektasi aku. Kenapa begitu? Okay, let me peel it first.


Plot:

Tomorrow with You tayang di chanel tvN sejak bulan Februari lalu menggantikan Goblin. Namun, drama ini merupakan drama pra-produksi, jadi tayang setelah shooting dramanya rampung 100%. Drama yang diperankan oleh Shin Min Ah (Song Ma Rin) dan Lee Je Hoon (Yoo So Joon) menceritakan Yoo So Joon, seorang CEO dari perusahaan real estate terkenal. Uniknya, So Joon memiliki kemampuan untuk dapat menjelajah waktu sejak ia menjadi penumpang yang selamat dalam kecelakaan di subway ketika ia remaja. Ia dapat melihat bagaimana masa depannya dan pergi ke masa depan dengan subway. Sayangnya, masa depan yang ia lihat adalah masa depan yang buruk. Demi menghindari terjadinya hal-hal tersebut, So Joon berusaha keras untuk mengubah takdirnya. Ia pun menikahi Song Ma Rin, seorang photographer wanita yang hadir di masa depannya. 



Song Ma Rin juga sebenarnya adalah penumpang selamat dalam kecelakaan di subway bersama So Joon. Namun, setelah menikah dengan Song Ma Rin, bukan nasib baik yang dilihatnya di masa depan. Ia malah melihat takdirnya semakin rumit. So Joon melihat dengan mata kepalanya sendiri, di masa depan ia akan menghilang dan Song Ma Rin akan meninggal tragis. Perlahan, perasaannya untuk Ma Rin pun semakin serius. So Joon tak ingin kehilangan Ma Rin dan mengupayakan agar masa depan menjadi baik untuk mereka. Apakah So Joon bisa mengubah takdirnya dengan kemampuan menjelajah waktu yang ia miliki? Ataukah takdirnya akan semakin rumit?

Thoughts:

Seperti yang aku bilang, ekspektasi aku akan drama ini cukup tinggi soalnya drama ini yang jadi penggantinya Goblin. Tapi ternyata drama ini nggak seseru yang aku kira. Aku justru malah jadi berpaling nonton Defendant saking serunya acting Ji Sung ahjussi dan sampe lupa nonton drama ini.

Well, plot drama ini bisa dibilang cukup fresh buat aku karena sebelumnya aku belum pernah nonton drama tentang time traveler ini, tapi entah kenapa aku malah nggak enjoy sih nontonnya. Apalagi di dua episode pertama, sumpah nggak ngerti ini lagi nonton apaan. Diperparah lagi dengan scene yang maju mundur maju mundur kaya Syahrini. Banyak mikirnya juga nonton drama ini, lumayan pusing.
Episode episode selanjutnya aku mulai ngerti, kalau nggak fullscreen artinya itu lagi di masa depan dan kalau fullscreen artinya lagi di masa sekarang.

Hal pertama yang kurang aku suka adalah karakternya. Pertama, kenapa sih So Joon ini digambarin sebagai cowok 30 tahun dan seorang CEO perusahaan real estate terkenal. Okay, kalau gayanya dia yang santai sih dimaklumin karena emang dia jadi kaya gara-gara miracle. Tapi, masa selucu ini sih? 



Selanjutnya juga karakternya Kim Young Jin, rivalnya So Joon. aku juga ngerasa dia sebenernya nggak cocok untuk memainkan perannya, padahal peran Young Jin ini penting banget, lho. Ngga ngerti deh. Mukanya terlalu innocent dan jatohnya jadi kasian menurutku, apalagi dia nangis mulu. Hahaha, Terus perannya dia sebagai rival nya So Joon nggak cocok banget, jatohnya malah kayak bapaknya.



Dan di beberapa scene, aku ngerasanya banyak bagian yang nggak terlalu jelas, mungkin karena ceritanya melompat-lompat. Masalahnya Bap Soon, terus kenapa waktu dia nikah seolah image Bap Soon nya gak kesebut sebut lagi. Terus cerita ayahnya Ma Rin yang jadi time traveler pun nggak dijelasin asal usulnya. Bahkan, di akhir pun nggak diceritain lagi kan apa yang terjadi sama Kim Young Jin.

Aku baru menikmati nonton drama ini dari episode 13. Soalnya menurut aku disitu ceritanya jelas dan nggak banyak blank yang harus aku pikirin. Sayang banget sih, padahal ceritanya udah seru menurutku. 



Aku juga jadi ngebayangin gimana ya kalau aku jadi time traveler kayak So Joon. Beban banget pasti ya, tapi enak juga bisa beli beli barang di masa depan haha. Btw, belakangan ini nonton drama fantasi semua deh. Lagi trendnya emang genre ini ya. Huft, jadi banyak ngayal.  

My rate for this drama 8/10 aja ya. Yang bikin drama ini agak mendingan itu ya gara-gara manisnya Ma Rin sama So Joon ini. Gemes banget deh. See you!




Jumat, 24 Maret 2017

Review Drama Korea: Defendant

Hello guys! Udah lama nih nggak ngomongin drama korea hehehe. Sekarang aku mau review sebuah drama yang baru tamat beberapa hari lalu, nih. Aku ngetik ini pun langsung setelah beres kutonton dramanya biar masih dapet feel nya. Alright, drama yang kali ini aku review adalah sebuah drama yang aku rekomendasiin banget buat kalian tonton! Highly recommended!

Senin, 20 Maret 2017

Review: When Love is Not Enough by Ika Vihara

Blurb:




Awalnya Lilja Hendrietta Moller berpikir menikah dengan sahabatnya, Linus Zainulin, dan tinggal bersamanya di Munchen, akan menjadi sebuah pernikahan yang sempurna. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka. Karena Linus dan Lily bisa sama-sama melakukan apa yang mereka suka. Tapi semua tidak sesempurna angan-angan Lily. Karier Linus sebagai pembuat kereta cepat yang semakin menanjak, ternyata malah menghancurkan gerbong kehidupan pernikahan mereka.

Lily kehilangan laki-laki yang dia cintai. Ayah dari anaknya. Suaminya. Yang lebih buruk lagi, dia kehilangan sahabatnya. Sosok yang sudah bersamanya sejak dia dilahirkan. Lily kembali ke Indonesia, mencoba membangun kembali hidupnya, tanpa Linus bersamanya.

Thoughts:

Ini adalah karya pertama dari Ika Vihara yang aku baca. Dan ini adalah buku kedua dari Ika Vihara setelah sebelumnya, ia sukses menelurkan karya pertamanya, My Bittersweet Marriage. Sayangnya, aku belum baca bukunya hehe. Ika Vihara ini sepertinya penulis spesialis untuk cerita-cerita bertema pernikahan karena sama dengan buku pertamanya, buku keduanya ini pun masih bercerita tentang rumitnya kehidupan pernikahan. Anyway, aku dikirimin buku ini sebagai hadiah dari salah satu blog tour nya kak Ika Vihara. Yippi senangnya.... So, let's peel it!

Novel ini bercerita tentang rumitnya kehidupan rumah tangga Lily bersama sang suami, Linus yang mana merupakan sahabatnya sejak ia kecil. Begitu membuka beberapa halaman pertama buku ini, kita sudah langsung disuguhi konflik-konflik Lily dan Linus. 

Kebanyakan orang menganggap bisa menikah dengan orang yang sudah lama dekat dengan mereka merupakan sesuatu yang menyenangkan, tapi tidak bagi Lily. Perbedaan pendapat dan persepsi membuat keduanya terancam mengorbankan hubungan pernikahan mereka, juga persahabatannya yang telah mereka rajut dari keduanya masih anak-anak.

Keinginan Lily untuk segera memiliki buah hati dari pernikahannya dengan Linus berbeda dengan kehendak Linus yang menginginkan mereka menunda memiliki buah hati karena Linus menganggap mereka belum siap menjadi orang tua, Dan kehadiran seorang anak pun malah menjadi bencana bagi mereka. Leyna - anak pertama Lily dan Linus - malah menjadi batas untuk Lily dan Linus. Dan kehadiran Leyna pun secara tidak langsung menuntunnya untuk kehilangan suami, sekaligus sahabatnya, Linus.

270 halaman buku ini nggak bisa aku baca dalam satu kali duduk karena banyaknya kesibukan akhir-akhir ini, padahal jika intens mendalami ceritanya, When Love is Not Enough nya Ika Vihara ini bisa menjadi bacaan yang cukup menyenangkan dan menguras emosi tentunya. Setelah bersusah payah mencari waktu yang tepat membaca buku ini akhirnya aku pun selesai juga membacanya! 

Di awal cerita, kita dibuat terheran-heran karena langsung disambut dengan konflik Lily dan Linus, namun halaman demi halaman yang aku baca, aku jadi menemukan alasan alasan mengapa hubungan Lily dan Linus retak, Di awal setiap bab nya pun ditampilkan flashback bagaimana dulu romantisnya kehidupan rumah tangga Lily dan Linus, dan lumayan bikin geregetan sekaligus menguras emosi ketika harus sadar kalau sekarang hubungan Lily dan Linus nggak seindah itu. 

Pertengahan ceritanya agak sedikit flat menurutku, karena berkutat disitu-situ saja ceritanya, banyak pengulangan yang digunakan Ika Vihara sehingga lumayan bikin bosen. Tapi menjelang ke akhir cerita, mulai deh geregetan dan dibikin gemes baca ceritanya, makanya aku mulai agak kebut bacanya karena emang pas udah dapet feel nya. 

Buku ini asik buat dibaca, walaupun konfliknya memang cukup terasa 'berat' tapi Ika Vihara berhasil mengungkapkannya dengan cara yang dapat dimengerti pembaca. At the end, sesuai dengan judulnya, kalau cinta aja itu emang gak cukup buat membangun sebuah rumah tangga. Yes, it is important, but there are a lot of things yang gak kalah pentingnya dari cinta, seperti kepercayaan, kerjasama, dan menghargai pendapat satu sama lain. Lily dan Linus sudah membuktikannya. Membaca buku ini jadi ada sepercik gambaran bagaimana pernikahan itu. Uhuk!! So, 3.5 stars buat buku ini dariku!

Sabtu, 18 Maret 2017

Review: Mikuya Ramen Jya Jya Flavor

Setelah kemarin-kemarin aku review salah satu ramen lokal asli Indonesia yaitu Mikuya Ramen yang varian Tori Kara Flavor, terus aku pun penasaran gitu karena aku belum nyoba varian satunya lagi. Akhirnya, aku pun memutuskan buat beli deh Mikuya Ramen Jya Jya Flavor.

Jadi ramen produksi Nissin ini menghadirkan 2 varian, yaitu Tori Kara Flavor atau mie kuahnya dan Jya Jya Flavor atau mie gorengnya. Untuk mie kuahnya itu udah aku review sebelumnya disini. Saatnya aku mereview gimana sih Mikuya Ramen Jya Jya Flavor ini.

Rabu, 22 Februari 2017

Review: Milea, Suara dari Dilan

Setelah hatam baca kedua seri buku Dilan (Dia adalah Dilanku tahun 1990 dan Dia adalah Dilanku tahun 1991), akhirnya aku bisa baca buku ketiganya juga, Milea: Suara dari Dilan. Sebenarnya baca bukunya udah selesai dari dua bulan lalu, tapi baru inget kalau ini belum direview hehe. Buku ini adalah buku pertama yang aku baca di tahun 2017 dan membaca buku ini merupakan awal yang baik menurutku karena buku Pidi Baiq ini jadi buku yang aku favoritkan. Dengan penuh rasa penasaran akan apa yang bakal dikatakan Dilan di bukunya yang ini, aku pun membacanya dengan antusias dan buku ini selesai kubaca dalam semalam saja.



Setelah nangis-nangis baper akibat baca Dilan yang kedua, aku ngerasa jadi kebal kalau misalkan harus nangis lagi baca buku yang ini, tapi ternyata aku gak sampai nangis baca buku ini. Hanya saja, nyesek! Hati aku beneran terenyuh baca ceritanya, aku bisa mengatakan kalau cerita Dilan dan Milea ini jadi cerita romance favoritku! Berhubung buku ini dikisahkan dari sudut pandang Dilan, buku ini jadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku dan pembaca lainnya di bukunya yang kedua.

Di buku ini pun, Dilan nggak cuma nyeritain tentang hubungannya dengan Lia aja. Kebanyakan dia justru ceritain ayahnya, ibunya, dan temen-temennya. Cerita tentang mereka yang belum Lia ungkapin di buku sebelumnya. Gimana tegasnya ayah Dilan, pak Ical. Juga, gimana lovely nya si Bunda. Semuanya lebih jelas diceritain dari sudut pandang Dilan.

Dilan pun nggak banyak ngulang cerita-cerita yang udah diceritain di buku kesatu atau keduanya sama Lia. Dilan cuma bilang ‘…seperti yang Lia ceritakan di bukunya yang kedua’. Padahal pengen tau gimana tanggapannya dia.

Kalau di dua buku sebelumnya, settingnya di Bandung, di buku ketiga ini ada juga bagian waktu Dilan ke Jogja, masa-masa Dilan nyari kuliah. Dan dari perjalanan itu, kita tau bahkan setelah Dilan putus dan gak berhubungan sama Lia pun, Dilan masih mikirin Lia!

Puncak bapernya baca buku ini adalah ketika Dilan seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca di buku keduanya, waktu bagian Lia nelpon Dilan malem itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa Dilan nyerah gitu aja waktu diputusin Lia dan hal-hal lain yang tidak diceritakan Lia di kedua bukunya terungkap disini. Hm, dan semuanya emang salah paham aja! Ah! SALAH PAHAM!

Aku baca halaman perhalaman buku ini sambil berandai-andai.

 ‘Andai, Dilan dulu nanya langsung ke Lia, jangan malah diem-dieman.’
‘Andai, Lia juga ngomong ke Dilan waktu dia liat Dilan sama Risa.’
‘Andai, dulu Dilan sama Lia ngomong dan jujur satu sama lain, mungkin mereka masih bersatu’
Andai dan andai.

Aku nggak bisa bayangin gimana ada di posisi Dilan atau Milea. Mungkin, mereka masih saling cinta, tapi mereka baru tau jawaban-jawabannya setelah masing-masing ada yang punya. Nyesek! Nggak ada kata lain yang menggambarkan kesan setelah baca buku ini selain nyesek! Lewat buku ini, aku jadi belajar banyak kalau komunikasi dalam sebuah hubungan itu penting, penting banget! Karena tanpa komunikasi yang baik, kesalahpahaman itu gampang banget terjadi. Jangan sampe kejadian kaya Dilan dan Lia ini. Se-nyesel apa coba mereka?

Lewat buku ini, kita juga sedikit tau gimana menghadapi perempuan dari sudut pandang laki-laki. Ternyata, laki-laki pun – untuk beberapa kondisi – lebih senang diam dan memendam masalah yang dia rasain, kaya Dilan ini. Dan ya, sebagai perempuan, kita kadang gengsi kalau ngomong duluan, maunya laki-laki yang ngomong duluan. Kaya Lia ini, mana mungkin dong Lia nanya ke Dilan waktu itu soal Risa, apalagi posisi mereka saat itu udah jadi mantan. Perempuan mana yang gak gengsi nanya kayak gitu? Ah tapi kan..
Ada bagian di buku ini yang bikin aku merinding sekaligus hampir nangis, waktu bunda mengungkapkan kerinduannya sama Lia. “Dilan, Bunda rindu Lia”

Seperti yang udah kita tahu di kedua bukunya kalau Lia ini deket banget sama si Bunda, jadi waktu Dilan putus sama Lia, bukan cuma Dilan yang ngerasa kehilangan, tapi Bunda juga.

5/5 stars dari aku buat buku ini. Aku bener-bener suka! Walaupun ceritanya gak berakhir bahagia, tapi yah namanya juga realita. Justru menurutku dari kisah Dilan-Milea ini, banyak pelajaran yang bisa kita ambil supaya gak bernasib sama kayak Dilan dan Milea. Ah ya, buat yang udah baca Dilan 1 sama 2, harus banget baca buku ini, karena kalau engga, mungkin kamu ngerasain galau berkepanjangan kayak yang aku rasain sebelum baca buku ketiga ini! Soalnya buku kedua tuh kayak pertanyaan dan yang ini jawabannya. Jadi harus baca deh!

Mungkin buku ini jadi penutup romansa Dilan dan Milea ya? I just wanna say thank you buat surayah Pidi Baiq yang sudah mengenalkan karakter Dilan dan Milea lewat bukunya! Semoga surayah semakin aktif berkarya dan membuat Dilan Dilan yang lain! Semoga Dilan dan Milea nya juga sama-sama bahagia di kehidupan yang mereka jalanin – terlepas dari siapapun Dilan itu.