Jumat, 24 Maret 2017

Review Drama Korea: Defendant

Hello guys! Udah lama nih nggak ngomongin drama korea hehehe. Sekarang aku mau review sebuah drama yang baru tamat beberapa hari lalu, nih. Aku ngetik ini pun langsung setelah beres kutonton dramanya biar masih dapet feel nya. Alright, drama yang kali ini aku review adalah sebuah drama yang aku rekomendasiin banget buat kalian tonton! Highly recommended!

Senin, 20 Maret 2017

Review: When Love is Not Enough by Ika Vihara

Blurb:




Awalnya Lilja Hendrietta Moller berpikir menikah dengan sahabatnya, Linus Zainulin, dan tinggal bersamanya di Munchen, akan menjadi sebuah pernikahan yang sempurna. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka. Karena Linus dan Lily bisa sama-sama melakukan apa yang mereka suka. Tapi semua tidak sesempurna angan-angan Lily. Karier Linus sebagai pembuat kereta cepat yang semakin menanjak, ternyata malah menghancurkan gerbong kehidupan pernikahan mereka.

Lily kehilangan laki-laki yang dia cintai. Ayah dari anaknya. Suaminya. Yang lebih buruk lagi, dia kehilangan sahabatnya. Sosok yang sudah bersamanya sejak dia dilahirkan. Lily kembali ke Indonesia, mencoba membangun kembali hidupnya, tanpa Linus bersamanya.

Thoughts:

Ini adalah karya pertama dari Ika Vihara yang aku baca. Dan ini adalah buku kedua dari Ika Vihara setelah sebelumnya, ia sukses menelurkan karya pertamanya, My Bittersweet Marriage. Sayangnya, aku belum baca bukunya hehe. Ika Vihara ini sepertinya penulis spesialis untuk cerita-cerita bertema pernikahan karena sama dengan buku pertamanya, buku keduanya ini pun masih bercerita tentang rumitnya kehidupan pernikahan. Anyway, aku dikirimin buku ini sebagai hadiah dari salah satu blog tour nya kak Ika Vihara. Yippi senangnya.... So, let's peel it!

Novel ini bercerita tentang rumitnya kehidupan rumah tangga Lily bersama sang suami, Linus yang mana merupakan sahabatnya sejak ia kecil. Begitu membuka beberapa halaman pertama buku ini, kita sudah langsung disuguhi konflik-konflik Lily dan Linus. 

Kebanyakan orang menganggap bisa menikah dengan orang yang sudah lama dekat dengan mereka merupakan sesuatu yang menyenangkan, tapi tidak bagi Lily. Perbedaan pendapat dan persepsi membuat keduanya terancam mengorbankan hubungan pernikahan mereka, juga persahabatannya yang telah mereka rajut dari keduanya masih anak-anak.

Keinginan Lily untuk segera memiliki buah hati dari pernikahannya dengan Linus berbeda dengan kehendak Linus yang menginginkan mereka menunda memiliki buah hati karena Linus menganggap mereka belum siap menjadi orang tua, Dan kehadiran seorang anak pun malah menjadi bencana bagi mereka. Leyna - anak pertama Lily dan Linus - malah menjadi batas untuk Lily dan Linus. Dan kehadiran Leyna pun secara tidak langsung menuntunnya untuk kehilangan suami, sekaligus sahabatnya, Linus.

270 halaman buku ini nggak bisa aku baca dalam satu kali duduk karena banyaknya kesibukan akhir-akhir ini, padahal jika intens mendalami ceritanya, When Love is Not Enough nya Ika Vihara ini bisa menjadi bacaan yang cukup menyenangkan dan menguras emosi tentunya. Setelah bersusah payah mencari waktu yang tepat membaca buku ini akhirnya aku pun selesai juga membacanya! 

Di awal cerita, kita dibuat terheran-heran karena langsung disambut dengan konflik Lily dan Linus, namun halaman demi halaman yang aku baca, aku jadi menemukan alasan alasan mengapa hubungan Lily dan Linus retak, Di awal setiap bab nya pun ditampilkan flashback bagaimana dulu romantisnya kehidupan rumah tangga Lily dan Linus, dan lumayan bikin geregetan sekaligus menguras emosi ketika harus sadar kalau sekarang hubungan Lily dan Linus nggak seindah itu. 

Pertengahan ceritanya agak sedikit flat menurutku, karena berkutat disitu-situ saja ceritanya, banyak pengulangan yang digunakan Ika Vihara sehingga lumayan bikin bosen. Tapi menjelang ke akhir cerita, mulai deh geregetan dan dibikin gemes baca ceritanya, makanya aku mulai agak kebut bacanya karena emang pas udah dapet feel nya. 

Buku ini asik buat dibaca, walaupun konfliknya memang cukup terasa 'berat' tapi Ika Vihara berhasil mengungkapkannya dengan cara yang dapat dimengerti pembaca. At the end, sesuai dengan judulnya, kalau cinta aja itu emang gak cukup buat membangun sebuah rumah tangga. Yes, it is important, but there are a lot of things yang gak kalah pentingnya dari cinta, seperti kepercayaan, kerjasama, dan menghargai pendapat satu sama lain. Lily dan Linus sudah membuktikannya. Membaca buku ini jadi ada sepercik gambaran bagaimana pernikahan itu. Uhuk!! So, 3.5 stars buat buku ini dariku!

Sabtu, 18 Maret 2017

Review: Mikuya Ramen Jya Jya Flavor

Setelah kemarin-kemarin aku review salah satu ramen lokal asli Indonesia yaitu Mikuya Ramen yang varian Tori Kara Flavor, terus aku pun penasaran gitu karena aku belum nyoba varian satunya lagi. Akhirnya, aku pun memutuskan buat beli deh Mikuya Ramen Jya Jya Flavor.

Jadi ramen produksi Nissin ini menghadirkan 2 varian, yaitu Tori Kara Flavor atau mie kuahnya dan Jya Jya Flavor atau mie gorengnya. Untuk mie kuahnya itu udah aku review sebelumnya disini. Saatnya aku mereview gimana sih Mikuya Ramen Jya Jya Flavor ini.

Rabu, 22 Februari 2017

Review: Milea, Suara dari Dilan

Setelah hatam baca kedua seri buku Dilan (Dia adalah Dilanku tahun 1990 dan Dia adalah Dilanku tahun 1991), akhirnya aku bisa baca buku ketiganya juga, Milea: Suara dari Dilan. Sebenarnya baca bukunya udah selesai dari dua bulan lalu, tapi baru inget kalau ini belum direview hehe. Buku ini adalah buku pertama yang aku baca di tahun 2017 dan membaca buku ini merupakan awal yang baik menurutku karena buku Pidi Baiq ini jadi buku yang aku favoritkan. Dengan penuh rasa penasaran akan apa yang bakal dikatakan Dilan di bukunya yang ini, aku pun membacanya dengan antusias dan buku ini selesai kubaca dalam semalam saja.



Setelah nangis-nangis baper akibat baca Dilan yang kedua, aku ngerasa jadi kebal kalau misalkan harus nangis lagi baca buku yang ini, tapi ternyata aku gak sampai nangis baca buku ini. Hanya saja, nyesek! Hati aku beneran terenyuh baca ceritanya, aku bisa mengatakan kalau cerita Dilan dan Milea ini jadi cerita romance favoritku! Berhubung buku ini dikisahkan dari sudut pandang Dilan, buku ini jadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku dan pembaca lainnya di bukunya yang kedua.

Di buku ini pun, Dilan nggak cuma nyeritain tentang hubungannya dengan Lia aja. Kebanyakan dia justru ceritain ayahnya, ibunya, dan temen-temennya. Cerita tentang mereka yang belum Lia ungkapin di buku sebelumnya. Gimana tegasnya ayah Dilan, pak Ical. Juga, gimana lovely nya si Bunda. Semuanya lebih jelas diceritain dari sudut pandang Dilan.

Dilan pun nggak banyak ngulang cerita-cerita yang udah diceritain di buku kesatu atau keduanya sama Lia. Dilan cuma bilang ‘…seperti yang Lia ceritakan di bukunya yang kedua’. Padahal pengen tau gimana tanggapannya dia.

Kalau di dua buku sebelumnya, settingnya di Bandung, di buku ketiga ini ada juga bagian waktu Dilan ke Jogja, masa-masa Dilan nyari kuliah. Dan dari perjalanan itu, kita tau bahkan setelah Dilan putus dan gak berhubungan sama Lia pun, Dilan masih mikirin Lia!

Puncak bapernya baca buku ini adalah ketika Dilan seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca di buku keduanya, waktu bagian Lia nelpon Dilan malem itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa Dilan nyerah gitu aja waktu diputusin Lia dan hal-hal lain yang tidak diceritakan Lia di kedua bukunya terungkap disini. Hm, dan semuanya emang salah paham aja! Ah! SALAH PAHAM!

Aku baca halaman perhalaman buku ini sambil berandai-andai.

 ‘Andai, Dilan dulu nanya langsung ke Lia, jangan malah diem-dieman.’
‘Andai, Lia juga ngomong ke Dilan waktu dia liat Dilan sama Risa.’
‘Andai, dulu Dilan sama Lia ngomong dan jujur satu sama lain, mungkin mereka masih bersatu’
Andai dan andai.

Aku nggak bisa bayangin gimana ada di posisi Dilan atau Milea. Mungkin, mereka masih saling cinta, tapi mereka baru tau jawaban-jawabannya setelah masing-masing ada yang punya. Nyesek! Nggak ada kata lain yang menggambarkan kesan setelah baca buku ini selain nyesek! Lewat buku ini, aku jadi belajar banyak kalau komunikasi dalam sebuah hubungan itu penting, penting banget! Karena tanpa komunikasi yang baik, kesalahpahaman itu gampang banget terjadi. Jangan sampe kejadian kaya Dilan dan Lia ini. Se-nyesel apa coba mereka?

Lewat buku ini, kita juga sedikit tau gimana menghadapi perempuan dari sudut pandang laki-laki. Ternyata, laki-laki pun – untuk beberapa kondisi – lebih senang diam dan memendam masalah yang dia rasain, kaya Dilan ini. Dan ya, sebagai perempuan, kita kadang gengsi kalau ngomong duluan, maunya laki-laki yang ngomong duluan. Kaya Lia ini, mana mungkin dong Lia nanya ke Dilan waktu itu soal Risa, apalagi posisi mereka saat itu udah jadi mantan. Perempuan mana yang gak gengsi nanya kayak gitu? Ah tapi kan..
Ada bagian di buku ini yang bikin aku merinding sekaligus hampir nangis, waktu bunda mengungkapkan kerinduannya sama Lia. “Dilan, Bunda rindu Lia”

Seperti yang udah kita tahu di kedua bukunya kalau Lia ini deket banget sama si Bunda, jadi waktu Dilan putus sama Lia, bukan cuma Dilan yang ngerasa kehilangan, tapi Bunda juga.

5/5 stars dari aku buat buku ini. Aku bener-bener suka! Walaupun ceritanya gak berakhir bahagia, tapi yah namanya juga realita. Justru menurutku dari kisah Dilan-Milea ini, banyak pelajaran yang bisa kita ambil supaya gak bernasib sama kayak Dilan dan Milea. Ah ya, buat yang udah baca Dilan 1 sama 2, harus banget baca buku ini, karena kalau engga, mungkin kamu ngerasain galau berkepanjangan kayak yang aku rasain sebelum baca buku ketiga ini! Soalnya buku kedua tuh kayak pertanyaan dan yang ini jawabannya. Jadi harus baca deh!

Mungkin buku ini jadi penutup romansa Dilan dan Milea ya? I just wanna say thank you buat surayah Pidi Baiq yang sudah mengenalkan karakter Dilan dan Milea lewat bukunya! Semoga surayah semakin aktif berkarya dan membuat Dilan Dilan yang lain! Semoga Dilan dan Milea nya juga sama-sama bahagia di kehidupan yang mereka jalanin – terlepas dari siapapun Dilan itu.


Minggu, 19 Februari 2017

Review: Mikuya Ramen Tori Kara Flavor

Setelah kemarin dunia perkulineran dihebohkan dengan kehadiran Samyang dari Korea, sekarang makanan-makanan sejenis pun mulai menjamur dipasarkan brand mie di Indonesia, salah satunya Nissin. Setelah punya ramen andalannya, Gekikara Ramen, sekarang Nissin kembali berinovasi menciptakan varian ramen terbarunya yaitu Mikuya Ramen!


Pertama kali aku tau produk Mikuya Ramen ini waktu aku blogwalking, aku kira ini ramen dari Korea juga. Eh eh ternyata, produk lokalan pemirsa! Terus aku liat lagi deh review review lainnya dari produk ini dan ternyata katanya enak dan worth to try gitu.

Aku pun akhirnya tancap gas ke Indomaret terdekat dan syukurnya langsung nemu Mikuya nya, perjuanganku ke Indomaret pun nggak sia-sia. Hehehe. Harganya sekitar Rp. 7.500 waktu aku beli. Ada dua varian, yang kuah namanya Tori Kara Flavor dan yang goreng namanya Jya Jya Flavor. Kalau varian mie goreng dari Mikuya ini lebih mirip kaya Jjajjangmyeon, kecapnya banyak banget!

Tapi sekarang yang mau aku review yang kuahnya dulu ya. Jadi dalam satu bungkus Mikuya Ramen ini ada mie, bumbu, sayuran, dan minyaknya. Untuk mie nya sendiri, teksturnya agak berbeda dengan mie yang biasa, mie nya lebih tebel dan waktu direbus lebih smooth.



Step pertama, aku rebus mie dan sayurannya. Waktu mie dan sayurannya direbus, wanginya semriwiiing, enak banget. Sambil direbus mie nya, aku masukin bumbu dan minyaknya. Bumbunya itu kayak bumbu santan gitu, serbuk putih. Aku rebus sesuai petunjuk penyajiannya selama empat menit dan voilaaa! Mikuya Ramen siap disajikan!




Sebelum direbus tuh mie nya kayak keliatan kecil, tapi pas jadi ternyata banyak banget mie nya. Kuahnya kental dan rasanya pun enak gurih tapi ada manis-manisnya juga gitu. Aku kira mie nya bakalan pedes gitu, tapi gak pedes sama sekali kalau di lidah aku, kecewaaa. 

Kalau dibandingin sama Gekikara, masih menang Gekikara sih, selain harganya lebih murah, rasanya juga lebih nendang Gekikara. Lidah orang beda-beda sih ya, tapi Mikuya ini worth to try kok. Jangan takut juga karena ini emang udah halal. Jadi buat yang nyari ramen halal, ramen ramen dari Nissin ini bisa jadi solusinya.

Tapi masih penasaran sama mie gorengnya Mikuya ini sih, next bakalan nyobain yang Jya Jya Flavor deh.