Senin, 30 Januari 2017

My January Top Five Songs

Dengerin lagu itu adalah salah satu aktivitas yang wajib aku lakuin tiap harinya. Entah kalau aku lagi bosen atau sibuk sekalipun, pasti deh harus dengerin lagu. Kalau nggak dengerin lagu itu bawaannya malah ngantuk, apalagi kalau lagi di perjalanan, kayak naik bus gitu, terus telinga dibiarin kosong, rasanya ada yang hampa hahaha. Makanya, aku selalu update dan siapin playlist buat aku dengerin tiap harinya. Dan kalau ada lagu baru yang masuk playlist, pasti aku ulang-ulang terus. Aku suruh kupingku kenalan sama lagunya dan biarin dia PDKT sama lagu tersebut, kalau cocok? bakalan abis aja deh itu lagu aku dengerin berkali-kali. Hahaha.


Nah, sekarang aku mau share lagu apa aja sih yang mejeng di playlistku. Lima lagu di bawah ini adalah lagu yang akhir-akhir ini aku dengerin berkali-kali dan bisa bikin mood aku lebih baik. Lagu-lagunya campur. Nggak cuma lagu mellow, ada upbeat juga. Nggak cuma lagu Barat, Indonesia juga ada. Nggak cuma penyanyi cewek, tapi cowok juga ada. Ya, begitulah aku biasanya nyusun playlist, biar nggak bosen. Kebiasaan nyusun playlist pas siaran bikin aku jadi selektif pas milih lagu yang mau aku dengerin. Hahaha. 

Tapi buat bulan ini kayaknya lagu-lagu yang aku dengerin kebanyakan lagu Korea. Jawabannya adalah karena di bulan ini banyak drama Korea keren yang aku tonton dan makin keren lagi karena original soundtrack nya juga enak-enak lagunya. So, ini dia My January Top Five Song

Sabtu, 28 Januari 2017

Review Drama Korea: The Legend of the Blue Sea

Helo, everyone! 
Januari udah hampir beres, nih! Beberapa hari lagi, kita bakalan memasuki bulan Februari. Hawa-hawanya udah mau Valentine aja, nih. By the way, Januari ini bisa dibilang bulan tersantai aku, lho! Mengawali 2017 dengan libur sebulan adalah hal yang menyenangkan, sebelum nantinya bakalan super-sibuk! Aku pun mengisi minggu-minggu yang santai di bulan Januari ini dengan nonton drama Korea sampe gumoh hahaha. Aku nonton hampir empat drama on-going sekaligus. Beruntunglah, sebelum aku masuk kuliah, semuanya udah pada tamat dan udah pada aku review juga. Sekarang giliran The Legend of the Blue Sea yang bakalan aku review. Drama ini jadi drama terakhir yang tamat dari drama-drama yang lagi aku tonton ini karena drama ini tayang dengan jumlah 20 episode. Buat yang penasaran gimana drama ini, langsung scroll ke bawah aja, ya!

Rabu, 25 Januari 2017

Review Drama Korea: Goblin

Yeay aku balik lagi nih, kali ini aku bakal review sebuah drama yang cukup banyak diperbincangkan akhir-akhir ini, apalagi kalau bukan Goblin! Kalian nonton drama ini nggak? Sekarang aku bakalan review gimana sih serunya drama satu ini. Drama ini jadi salah satu drama yang aku tonton di awal Januari ini, lho. Dari tiga drama; Weightlifting Fairy Kim Bok Joo, Goblin, dan TheLegend of the Blue Sea. Goblin ini drama kedua yang tamat setelah Weightlifting Fairy Kim Bok Joo. Okay, kelamaan pembukaan mulu ya, langsung deh, let me peel it!


Selasa, 24 Januari 2017

Review: Pulang by Leila S. Chudori





Blurb

Paris, Mei 1968.
Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.
Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris, Dimas bersama tiga kawannya, Nugroho, Tjai, dan Risjaf -terus menerus dikerjar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari - Isteri Hananto – yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.
Jakarta, Mei 1998.
Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya, Bersama Segara Alam, putera Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Thoughts

Itulah beberapa paragraf yang tertulis di bagian belakang buku Pulang karya Leila S. Chudori. Paragraf demi paragraf yang justru saya baca setelah saya selesai membaca bukunya. Konyol bukan? Jika biasanya saya memilih novel atau buku yang akan saya baca lewat blurb yang terletak di cover belakang buku, hal berbeda terjadi ketika saya memilih buku ini dari ribuan buku-buku yang mejeng di Dispusipda Jawa Barat. Nama Leila S. Chudori yang benar-benar baru pertama kali saya baca namanya membuat saya tanpa pikir panjang memutuskan buku ini untuk jadi bacaan saya selanjutnya. Saya juga belum pernah membaca atau mendengar review dari novel bersampul kuning tua ini. Justru baru tahu ternyata bukan hanya saya yang menganggap buku ini bagus setelah melihat kolom komentar di laman goodreads tentang buku ini. Lantas mengapa saya memilih buku satu ini? Ketidaksengajaan yang sempurna.

Ya, buku ini boleh dibilang buku lama, buku ini diterbitkan tahun 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Sudah cukup lama, bukan? Seperti yang saya bilang sebelumnya, buku ini memiliki magnet sehingga membuat saya tertarik mengambil buku ini diantara banyaknya buku yang berjejer di rak perpustakaan. Kebetulan memang saya sedang mencari bacaan yang agak sedikit berat; yang ceritanya tidak melulu tentang pasangan kekasih yang dilanda konflik dan berakhir dengan drama bahagia ala cerita dongeng.

Tanpa harus saya jelaskan lebih dalam lagi, buku ini berkisah tentang Dimas Suryo, seorang eksil politik yang terpaksa dan dipertemukan takdir untuk harus terbang ke luar negeri; meninggalkan tanah air tercinta, Indonesia. Tanpa ia sangka, tempat yang di benaknya ia anggap ‘pengasingan’, ternyata merupakakan tempat hatinya berlabuh pada wanita cantik asal Paris, Vivienne Deveraux.
Novel ini mengambil latar di Prancis dan Indonesia. Cerita tiga peristiwa bersejarah di dua negara tersebut; Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Inonesia Mei 1998.

Novel ini menurut saya adalah sebuah ‘paket komplit’. Selain menyuguhkan pelajaran sejarah dan politik Indonesia di tahun 1968 – 1998 yang dikemas seindah mungkin, lewat novel ini, Leila juga menyuguhkan cerita persahabatan empat orang lelaki; Dimas, Nugraha, Tjai, dan Risjaf yang selanjutnya dikenal dengan nama empat pilar Tanah Air. Bagaimana pengalaman manis serta ketir nya mereka jauh dari tanah air; meninggalkan orang tersayang di tanah air. Di satu sisi, makna perjuangan pun terasa sangat kental di novel ini, tentang bagaimana mereka berusaha tetap ‘hidup’ dengan situasi apapun, perjuangan mereka membangun Restoran Tanah Air di Paris yang jauh dari kata mudah, perjuangan mereka menerima teror sepanjang hidup dan betapa tidak tenangnya menjalani hidup sebagai mereka yang dianggap ‘tahanan politik’.

Yang tak bisa dilupakan, novel ini juga berkisah cinta segitiga yang di alami dua generasi; ayah dan anak. Tentang Dimas Suryo yang masih diliputi bayang-bayang Surti Anandari di tengah-tengah pernikahannya dengan Vivienne juga tentang Lintang Utara yang gamang memilih Narayana; pria tampan blasteran Prancis-Indonesia yang sudah menjalin kasih dengan Lintang sejak lama ataukah Segara Alam; putra bungsu Surti Anandari, si le coup de foudre yang menggetarkan hatinya sejak pertama kali bertemu.

Saya sangat menikmati membaca lembar demi lembar novel Leila S. Chudori ini, sangat amat menikmati. Saya dibuat ketagihan ingin terus membaca novel ini hingga akhir, tanpa rasa bosan dan tanpa rasa malas. Akibatnya, novel 464 halaman ini berhasil saya lahap dalam waktu kurang lebih dari dua malam saja. Walaupun berganti-ganti sudut pandang, tapi tak serta merta membingungkan saya karena cara penuturan nya yang begitu lembut. Rangkaian surat-surat panjang yang dilampirkan di novel ini juga menyegarkan bacaan menurut saya; seperti benar-benar sedang membaca surat.

Novel ini juga cukup mengguncang perasaan saya membaca bagaimana Indonesia di kala itu. Saya, generasi tahun 1990-an yang hanya tau sekilas sejarah G30 S PKI ataupun demo penurunan presiden Soeharto kala itu dibuat terbuka pandangan saya bagaimana menyeramkannya Indonesia kala itu. Rusuh.

Yang saya suka dari buku ini juga karena penulis telah mengenalkan saya kepada orang dan karya karya hebat yang beliau tuliskan di novel ini. Beberapa nama seperti T.S. Elliot, John Steinbeck, Shakespeare, James Joyce dan masih banyak lagi ditulis di novel ini. Juga, tokoh-tokoh pewayangan seperti Ekalaya dan Arjuna.


Kalau saya rating, mungkin saya akan kasih 4.5/5 untuk bacaan sekeren ini. Sangat sayang baru membaca karya hebat ini sekarang, tapi gak apa apa, daripada tidak sama sekali ya? Highly Recommended. 

Senin, 23 Januari 2017

Review Drama Korea: Weightlifting Fairy Kim Bok Joo

Halo, buddies!

Kali ini aku mau review drama Korea yang baru selesai aku tonton, yak! Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo. Drama yang tayang di MBC ini selesai di tanggal 11 Januari kemarin dengan jumlah 16 episode. Penasaran gimana dramanya? Yuk scroll ke bawah!


Yaash, Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo ini adalah drama yang dibintangi oleh Lee Sung Kyung dan Nam Joo Hyuk. Ini jadi kali pertama aku nonton drama nya Lee Sung Kyung dengan peran yang berbeda hahaha karena Lee Sung Kyung yang aku tau itu jahat mulu perannya, kayak di Cheese in the Trap dan Doctors. Makanya, drama ini jadi seru banget menurutku. Selain dibintangi mereka berdua, drama ini dibintangi juga oleh Kang Ki Young, You Da In, Choi Moo Sung, dan beberapa aktor lain.




Drama ini menceritakan kehidupan Kim Bok Joo, seorang atlet angkat besi yang berprestasi. Drama ini temanya olahraga dan atlet-atlet gitu kayak drama To The Beautiful You, tapi beda kok ceritanya. Karakter Kim Bok Joo disini digambarin sebagai seorang remaja yang bodo amat gitu sama penampilannya, dia nggak pernah sok jaim gitu melainkan beneran jadi dirinya yang apa adanya. Tapi perilakunya Bok Joo ini berubah waktu dia ketemu sama Jung Jae Yi, seorang dokter yang punya klinik menurunkan berat badan. Kim Bok Joo yang sebelumnya belum pernah ngerasain jatuh cinta, tiba-tiba aja ngalamin yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama sama Jae Yi ini. Bok Joo yang seorang atlet angkat besi ini pun sampe nekat daftar jadi pasien di klinik nya Jae Yi saking pengen ketemu terus sama Jae Yi. Pastinya, Bok Joo terpaksa harus bohong ke Jae Yi tentang siapa dia karena gak mungkin seorang atlet angkat besi malah nurunin berat badan. Disini pun Bok Joo dilanda kegalauan, dia dilema milih karir atau cintanya. 


Dan lucunya, ternyata Jae Yi itu kakaknya Joon-Hyung. Ceritanya Joon Hyung ini atlet renang dan satu sekolah sama Bok Joo. Sebenernya Joon Hyung ini temen satu SD Joon Hyung, tapi waktu mereka dipertemukan lagi di universitas yang sama, Bok Joo ngeliat Joon Hyung kayak orang yang beda karena sifatnya dia yang berubah dan lebih ganteng juga hihihi. Kebohongan Bok Joo tentang identitas dirinya pun ketauan sama Joon Hyung dan ini malah bikin Joon Hyung ngeledekin Bok Joo terus sampe dia nggak nyaman karena cuma Joon Hyung yang tau kebohongannya ini,


Lama-lama, keisengan Joon Hyung ini malah bikin dia jatuh cinta sama Bok Joo. Dia jadi sering khawatirin Bok Joo dan ngelindungin Bok Joo waktu Bok Joo patah hati gara-gara dokter Jae Yi. Yay, benih-benih cinta mereka pun muncul hehehe. Dan ini nggak mudah buat Bok Joo karena dia tau kalau Joon Hyung ini cowok popular di sekolahnya. Rasa nggak pedenya dia malah bikin dia makin lucu. Bok Joo juga sering cemburu-cemburu gitu sama Joon Hyung. Gemes banget deh mereka berdua HEUHEU. Lucu bangeeet! Aku suka banget sama aktingnya Lee Sung Kyung, apalagi karena di drama ini karakternya dia beda dari drama drama sebelumnya yang dia mainin.
 
hayo siapa yang mau nyulik?
Overall, aku suka sama drama ini. Nggak bikin bosen, ada sedihnya, ada ngakaknya, ada degdegannya juga. Bener kata Lee Sung Kyung yang ngerasa drama ini sebagai sebuah drama yang hangat. Drama ini nggak cuma ceritain struggle nya Bok Joo sebagai atlet angkat besi, tapi juga nyeritain gimana orang tuanya, sahabatnya, dan kisah cintanya juga. Suka banget deh sama aktingnya Lee Sung Kyung sama Nam Joo Hyuk, ngeship mereka deh, beneran. Aku rate 8.5/10. Recommended buat kalian yang penasaran mau liat lucunya Lee Sung Kyung dan Nam Joo Hyuk! Hehehe. See you!



Jumat, 20 Januari 2017

Review: Negeri 5 Menara by A. Fuadi







Buku ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi yang ditulis Ahmad Fuadi. Diterbitkan pertama oleh Gramedia di tahun 2009, buku ini menjadi buku yang masuk deretan national best seller. Berkisah tentang perjuangan Alif Fikri yang harus mengubur impiannya masuk SMA setamat menimba tiga tahun ilmu di sebuah Madrasah Tsanawiyah di daerah Maninjau, Sumatera Barat.

Impiannya untuk menimba ilmu di SMA Bukittinggi, lalu berkuliah di ITB, dan terus ke Jerman seperti Pak Habibie pupus sudah setelah perbincangan dengan Amak di langkan rumah malam itu. Amak lebih ingin anak bujang nya itu masuk sekolah agama; tidak ke SMA seperti harapannya. Perintah Amak bukan sesuatu yang bisa di bantah. Tiga hari mogok bicara dan mengurung diri di kamar pun tak membuat keinginan Amak goyah.

Dengan setengah hati, akhirnya Alif Fikri memutuskan melanjutkan sekolahnya ke sebuah pondok di Jawa Timur, Pondok Madani. PM, sebuah tempat bersejarah di hidup seorang Alif Fikri; perantau dari kampung nan jauh disana. Pondok penuh perjuangan dan sarat akan pelajaran. Di tempat ini pula, ia bertemu kawan yang menemani perjuangannya empat tahun belajar di Pondok; Raja Lubis, Said Jufri, Baso Salahuddin, Dulmajid, dan Atang. Perbedaan latar belakang membuat mereka mengenal satu sama lain, bertukar cerita, bertukar mimpi, dan bersama-sama mewujudkan mimpi itu. Enam orang sahabat yang selanjutnya dikenal dengan nama Sahibul Menara.

“Bagaikan menara, cita-cita kami tinggi menjulang. Kami ingin sampai di puncak-puncak mimpi kelak.”

Opinion

Saya mungkin telat membaca buku ini, namun saya tidak menyesal karena setidaknya saya pernah membaca buku hebat dari Ahmad Fuadi satu ini. Cover depan bertuliskan Indonesia’s Most Inspiring Novel membuat mata saya terfokus pada Negeri 5 Menara ini. Saya sangat menikmati membaca buku ini, tidak ada kata malas sedikitpun untuk membaca buku ini. Bacaan yang membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikannya, saya pun ikut larut dalam suasana Pondok Madani yang diceritakan Alif.

Kata demi kata dan kalimat demi kalimat di buku ini mengalir begitu saja, tidak membuat pembaca lantas kebingungan memahami maksudnya. Membaca buku ini serasa mendengar seorang teman bercerita bagaimana kehidupannya di pondok pesantren, sangat menarik.

Emosi saya juga menjadi satu dengan tokoh-tokoh di novel ini. Saya merasakan bagaimana konflik batin yang dirasakan Alif. Sangat ngena. Gimana rasanya ketika kamu punya mimpi dan telah merancang poin-poin menuju kesana lalu dengan tiba-tiba seseorang meminta untuk mengubah haluan. Sakit. Yang paling menyakitkan ketika bagian Alif bersurat dengan Randai; karibnya di Maninjau yang mimpinya bisa terwujud, masuk SMA, lalu kuliah Teknik Mesin di ITB. Impian yang sama dengan yang Alif mimpikan. Hal itu pula yang membuat Alif bimbang. Untungnya, nasihat Amak, kawan-kawan, dan guru-guru bisa menguatkannya.

Membaca buku ini jadi terbayang bagaimana kehidupan di pondok pesantren yang mungkin tidak semua pondok sehebat Pondok Madani ini. Ketatnya peraturan pondok memaksa Alif dan kawan-kawannya untuk terbiasa mengikuti arus. Saya pun jadi tahu beberapa istilah dan sistem yang ada di Pondok Madani lewat buku ini, seperti jasus contohnya.

Tak heran buku ini menjadi buku inspirasi paling dahsyat. Setelah membaca buku ini pun, saya hening dan diam sejenak; otak saya berputar dan mencerna. Keadaan ini tak jauh beda setelah mengikuti seminar ESQ. Nasihat, petuah, dan inspirasi di buku ini benar benar ngena!

Highly recommended, nilai sempuna untuk buku hebat satu ini. 

Senin, 16 Januari 2017

3 Website yang Wajib Kamu Kunjungin Kalo Suka Barang Gratisan

Hello, buddies!

Wah, ini postingan pertama aku di tahun 2017, lho! Gak kerasa ya udah ganti tahun aja. Di 2017 ini, aku bakalan berusaha buat lebih banyak postingan yang lebih bermanfaat buat pembaca. Halaaah. Ya anggap aja resolusi tahun 2017 buat blog ini lah ya.

Dan di postingan pertama tahun ini, aku mau bagi sesuatu yang bermanfaat buat kalian. Kalau menurut aku sih ini bermanfaat, soalnya aku bisa dapet barang-barang gratisan! Siapa sih zaman sekarang yang gak suka gratis? Hahaha. Even, orang tajir aja kayanya kalo liat gratisan matanya nyala-nyala, apalagi mahasiswa kantong seret kayak aku gini hehe.