Jumat, 19 Januari 2018

Book Review: Entrok by Okky Madasari




Halo!
Di postingan kali ini, aku bakalan ngebahas sebuah buku hasil perburuan aku di harbolnas kemarin! Huehehe. Karya dari penulis favorit aku, Okky Madasari, Entrok.


Anyway, cerita dikit hehe harbolnas kemarin tuh bener bener mengeruk seluruh dompet aku, alhasil budget untuk beli buku pun berkurang banget nget nget. Jadi, sebelum memutuskan untuk beli karya Okky Madasari yang satu ini, aku memang banyak browsing dan baca review orang tentang buku ini karena dilanda kegalauan yang berkepanjangan pas mau checkout di website Gramedia soalnya uangku cukup buat beli 2 bukunya mbak Okky ini. Akhirnya aku putusin beli dulu 2 bukunya beliau, Entrok dan Pasung Jiwa.
Mungkin bisa dibilang telat pake banget kali ya review nya karena emang aku baru baca buku terbitan tahun 2010 ini di tahun 2017, tapi tak apalah ya hehehe. So, is it worth to read? Yuk baca review aku!



Blurb


Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.

Adakah yang salah jika mereka berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.


Plot


Novel ini menceritakan kerasnya hidup Sumarni, seorang dara yang berasal dari pedalaman Jawa, yang harus berjuang mengubah hidupnya dari belenggu kesengsaraan.

Di awal-awal, novel ini menceritakan tentang keinginan Marni sebagai seorang gadis remaja yang baru menginjak masa pubertas untuk membeli entrok atau BH. Sayangnya, di zaman perang dulu, punya entrok adalah suatu hal yang dianggap mewah dan nggak semua orang mampu membelinya. Si Mbok nya yang bekerja sebagai buruh kupas kulit singkong di pasar cuma diupahi dengan singkong, bukan dengan uang. Keinginan membeli entrok pun rasanya semakin mustahil, lah buat makan aja susah.

Namun, di novel ini, kita diperkenalkan dengan karakter seorang Marni yang kuat, tangguh, dan nggak gampang menyerah. Marni merasa enggan jika ia harus kalah oleh takdirnya. Oleh karenanya, Marni nekat bekerja jadi kuli di pasar tempat si Mbok nya bekerja. Walaupun awalnya keinginan Marni ini ditentang Mbok nya karena wanita itu dianggap nggak pantas kerja jadi kuli, tapi bukan Marni ceritanya kalau nggak nekat.

Keping demi keeping uang hasil nguli, dia kumpulkan sampai akhirnya dia bisa membeli entrok yang diidamkannya. Namun, setelah mendapat entrok yang dia mau pun, Marni nggak berhenti kerja jadi kuli. Dia malah senang mengumpulkan rupiah demi rupiah dan ditabungnya untuk bekal hidupnya dan si Mbok. Ketika uang itu bertambah banyak, Marni pun memutuskan untuk bakulan, jualan sayur keliling di desanya.
Kegesitan dan kesigapan Marni ini tampaknya jadi alasan Suteja, kuli di pasar yang sama dengan Marni, tertarik untuk menikahi Marni. Singkat cerita, Teja dan Marni pun menikah. Setelah menikah, Teja berhenti jadi kuli dan memutuskan untuk membantu Marni berjualan. Usahanya tambah laris, bahkan sekarang Marni nggak cuma jualan sayur, tapi juga jualan perabotan rumah tangga dan usahanya semakin maju sampai dagangannya pun nggak hanya berupa barang, tapi juga uang.

Namun, majunya usaha dan bertambahnya pundi pundi uang tak serta merta membuat Marni bahagia. Kekayaan Marni ini justru membuatnya sering jadi bahan gunjingan warga. Marni yang dianggap kere dulunya, sekarang punya harta berlimpah itu dianggap aneh. Warga di sekitarnya pun nganggap kalau Marni ini melihara tuyul, ikut pesugihan, dan musyrik.

Rahayu, anak perempuan semata wayang Marni, yang mendapatkan pendidikan dari sekolahnya sadar kalau apa yang dilakukan ibuna itu melanggar norma dan dosa; ritual nyembah leluhur, ngasih sesajen, dan jadi rentenir. Tak jarang, Rahayu ini sering jadi olok-olokan dan cemoohan teman-teman bahkan gurunya karena kelakuan ibunya. Itu jugalah yang menimbulkan rasa benci Rahayu ke ibunya makin hari makin besar.

Selain dikenal punya tuyul, ikut pesugihan, dan sebagainya. Pekerjaan baru Marni yang jadi rentenir ini bikin warga desa makin menggunjingnya. Sebutan lintah darat, tukang cekik orang miskin udah jadi hal yang biasa buat Marni. Parahnya, dia ini sering diancam sama orang orang yang punya kuasa, mulai dari tentara, lurah, bahkan bupati, buat ngasih sebagian penghasilannya ke mereka dengan dalih uang keamanan. Dihina, tapi toh dinikmati juga duitnya.

Tapi, apakah Marni benar-benar sejahat, sehina, dan sekeji itu?

Thoughts

Saking asyiknya baca novel ini, aku berhasil melahap Entrok dalam waktu enam jam saja. Nggak ada reading slump waktu baca novel ini, rasanya pengen cepet cepet beres bacanya.

Dari beberapa lembar pertama aja, aku udah dibuat yakin kalau ini emang bacaan bagus. Fortunately, novel ini bisa memenuhi ekspektasiku, bahkan banyak yang di luar ekspektasiku! Novel ini emang berisi banyak banget kritik sosial yang tajam namun disampaikan dengan cara yang apik.
Dan satu hal yang paling penting dan aku suka dari novel ini adalah karena novel ini bisa mengaduk aduk emosi aku, terutama rasa kesal aku.

Sumpah ya, you need to know kalau sepanjang baca novel ini, dada aku rasanya sesak sama kekesalan. Serius deh ini! Mau marah, cape, kesel seperti yang dialami Marni.

Aku kesel gimana orang yang punya kuasa itu seenaknya, seenak udel, ngambil hasil jerih payah orang. Seragam dan pangkatnya itu jadi senjata buat mereka ngancam orang orang kayak Marni. Kalau nggak nurut, ya udah di cap yang aneh-aneh; nggak nurut pemerintah lah, nggak dukung pemerintah lah, PKI lah, dan hal hal menyebalkan lainnya.

Selain itu, konflik ideologi Marni dan anak perempuannya juga jadi sesuatu yang menarik dari novel ini. Marni, yang nyembah leluhur dan sering ngelakuin ritual, itu emang cuma nerusin dan ngelakuin hal yang sama seperti yang diajarkan Mbok nya. Hal ini bikin Rahayu geram karena dengan ilmu pengetahuan dan pendidikannya, dia paham kalau yang dilakuin ibunya itu menyimpang dari agama yang ia pelajari. Hal ini bahkan bikin hubungan Marni dan Rahayu jadi renggang.

Anak perempuan yang Marni banggakan dan istimewakan, yang ia beri kenikmatan untuk hidup layak dan diberi pendidikan sebaik baiknya justru malah membenci ibunya sendiri karena berbedanya apa yang mereka yakini. Rahayu bahkan memilih meninggalkan ibunya; mematahkan sejuta harapan yang Marni pupuk kepadanya.

Belum selesai sampai disitu, derita Marni bertambah juga karena suaminya yang jadi suka memanfaatkan hasil jerih payahnya untuk pergi ke tempat pelacuran. Seriously, it hurts.

Membaca novel ini, entah kenapa aku merasa terikat dengan karakter Marni dan gimana struggle nya dia menjalani kehidupan dan nasib yang ia lawan.

I highly highly recommended this novel untuk mereka yang suka membaca novel novel yang mengangkat tema tentang kritik sosial. It is a must-read book!

5/5 untuk novel yang berhasil membuat emosiku ikut tumpah ke dalamnya.

0 comment: