Jumat, 10 Februari 2017

Review: The Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd

Blurb

"The bees came in the summer of 1964, the summer I turned fourteen and my life went spinning off into a whole new orbit, and I mean whole new orbit." Living on a peach farm in South Carolina with her harsh, unyielding father, Lily Owens has shaped her entire life around one devastating, blurred memory the afternoon her mother was killed, when Lily was four. Since then, her only real companion has been the fiercehearted, and sometimes just fierce, black woman, Rosaleen, who acts as her "stand-in mother."

When Rosaleen insults three of the deepest racists in town, Lily knows it's time to spring them both free. They take off in the only direction Lily can think of, toward a town called Tiburon, South Carolina—a name she found on the back of a picture amid the few possessions left by her mother. There they are taken in by an eccentric trio of black beekeeping sisters named May, June, and August. Lily thinks of them as the calendar sisters and enters their mesmerizing secret world of bees and honey, and of the Black Madonna who presides over this household of strong, wise women. Maternal loss and betrayal, guilt and forgiveness entwine in a story that leads Lily to the single thing her heart longs for most. The Secret Life of Bees has a rare wisdom about life—about mothers and daughters and the women in our lives who become our true mothers. remarkable story about the divine power of women and the transforming power of love, this is a stunning debut whose rich, assured, irresistible voice gathers us up and doesn't let go, not for a moment. It is the kind of novel that women share with each other and that mothers will hand down to their daughters for years to come.


Mengisahkan seorang gadis empat belas tahun, Lily Owen yang tinggal bersama seorang ayah temperamental, T. Ray, Lily harus hidup dengan penuh rasa takut. Sang ibu, Deborah Fontanel, meninggal ketika usianya baru menginjak empat tahun. Kematian ibunya pun menjadi sesuatu yang penuh misteri. Sampai suatu hari, Lily menemukan benda-benda peninggalan sang ibu dan benda itulah yang mengantarkan Lily sampai ke Tiburon, South Carolina. Lily kabur dari rumah bersama wanita kulit hitam yang mengasuhnya sejak kecil, Rosaline. Dengan keyakinan selembar foto bertuliskan Tiburon, SC, Lily nekat pergi ke Tiburon, kota yang pernah dikunjungi ibunya, tanpa tahu pasti apa tujuannya. Satu hal yang Lily yakin, kepergiannya ke Tiburon bisa mengungkap jejak sang ibu dan misteri dibalik kematian sang ibu. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan kakak beradik kulit hitam May, June, dan August yang menurutnya dapat mengungkap kematian sang ibu.

Lily pun tinggal di rumah tiga bersaudara ini dengan identitas sebagai Lily William. Lily mengaku sang ibu telah meninggal dan ayahnya meninggal karena kecelakaan. Lily mengaku singgah ke Tiburon untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Virginia bertemu bibinya. Lily dan Rosaline pun tinggal di pink house dan membantu August menjadi seorang bee-keeper. 

Menjadi seorang bee-keeper, Lily banyak belajar dari kerumunan lebah-lebah yang sangat bergantung pada ratu lebah. Kerumunan lebah yang menakutkan bagi Lily, ternyata memiliki banyak sekali rahasia di dalamnya. Tinggal sebagai satu-satunya orang putih di pink house pun membuat Lily banyak belajar. Mengapa hanya karena beda warna kulit bisa membuat semuanya sangat berbeda?


Thoughts

Novel ini adalah novel yang cukup menghangatkan hati dan penuh inspirasi menurutku. Bagaimana masa remaja Lily yang penuh rintangan tinggal dengan ayah yang temperampental. Sosok ayah yang ia harapkan bisa melindunginya ketika sang ibu tiada justru malah menjadi ayah yang tidak pernah Lily harapkan. Di novel ini pun, Lily bercerita kalau ia memanggil sang ayah ‘T-Ray’ bukan ‘Daddy’. 

Aku baca versi asli buku ini, bukan terjemahannya, untuk memenuhi target membaca 25 buku Bahasa Inggrisku tahun ini. Dan aku rasa membaca buku ini merupakan pilihan yang tepat karena bahasanya tidak terlalu rumit dan mudah dipahami berhubung ini buku tahun 2000-an. Tapi, buku ini sudah ada terjemahannya, kok. Selain itu, pilihan sudut pandang novel ini oleh Sue Monk Kidd pun sangat tepat karena dengan sudut pandang orang pertama, pembaca merasa bisa memposisikan dirinya sebagai seorang Lily Owen.

Beberapa jokes pun disisipkan di novel ini membuat novel ini semakin menarik. Part terbaik di novel ini menurutku ketika Lily mengetahui misteri dibalik kematian sang ibu. Lily yang selama ini memiliki gambaran sendiri tentang ibunya sebagai ibu yang penyayang dan lembut dibuat galau setelah mendengar cerita August tentang ibunya. Selain itu, persahabatan Lily dan Zach pun membuat ceritanya lebih menarik, bagaimana Zach dan Lily yang sama-sama saling menyukai tapi lantaran perbedaan warna kulit mereka harus berbesar hati memendam perasaan mereka dan tak lebih hanya sepasang sahabat. Aku juga suka saat June yang keras hati dan awalnya tidak menyukai Lily berubah menyayangi Lily.


Aku merekomendasikan buku ini buat kalian yang lagi cari novel yang heart-warming atau novel yang berkisah tentang anak perempuan dan ibunya. Ah ya, novel ini pun sudah difilmkan dan dibintangi oleh bintang terkenal seperti Dakota Fanning


For the rate itself, rate-ku buat novel satu ini 3.5/5. Actually, I like it Lily's stories so much, but I don't really know, for me it's just... maybe I'll watch the movie later. See yaaa!

4 comment:

Andi Samudra mengatakan...

Ini novel kesukaan saya walipun sering baca tapi gak bosan baca terus.

Rhena Indria mengatakan...

Wah iya? Memang bagus sih novelnya:)

Muthi Haura mengatakan...

Jadi penasaran dengan kisah Lily. Pengen bacaaaaa.
makasih ya mbak udah ngasih info tentang novel inspirasi ini ;))

Rhena Indria mengatakan...

Sama-sama. Selamat membaca ya:)