Rabu, 22 Februari 2017

Review: Milea, Suara dari Dilan

Setelah hatam baca kedua seri buku Dilan (Dia adalah Dilanku tahun 1990 dan Dia adalah Dilanku tahun 1991), akhirnya aku bisa baca buku ketiganya juga, Milea: Suara dari Dilan. Sebenarnya baca bukunya udah selesai dari dua bulan lalu, tapi baru inget kalau ini belum direview hehe. Buku ini adalah buku pertama yang aku baca di tahun 2017 dan membaca buku ini merupakan awal yang baik menurutku karena buku Pidi Baiq ini jadi buku yang aku favoritkan. Dengan penuh rasa penasaran akan apa yang bakal dikatakan Dilan di bukunya yang ini, aku pun membacanya dengan antusias dan buku ini selesai kubaca dalam semalam saja.



Setelah nangis-nangis baper akibat baca Dilan yang kedua, aku ngerasa jadi kebal kalau misalkan harus nangis lagi baca buku yang ini, tapi ternyata aku gak sampai nangis baca buku ini. Hanya saja, nyesek! Hati aku beneran terenyuh baca ceritanya, aku bisa mengatakan kalau cerita Dilan dan Milea ini jadi cerita romance favoritku! Berhubung buku ini dikisahkan dari sudut pandang Dilan, buku ini jadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku dan pembaca lainnya di bukunya yang kedua.

Di buku ini pun, Dilan nggak cuma nyeritain tentang hubungannya dengan Lia aja. Kebanyakan dia justru ceritain ayahnya, ibunya, dan temen-temennya. Cerita tentang mereka yang belum Lia ungkapin di buku sebelumnya. Gimana tegasnya ayah Dilan, pak Ical. Juga, gimana lovely nya si Bunda. Semuanya lebih jelas diceritain dari sudut pandang Dilan.

Dilan pun nggak banyak ngulang cerita-cerita yang udah diceritain di buku kesatu atau keduanya sama Lia. Dilan cuma bilang ‘…seperti yang Lia ceritakan di bukunya yang kedua’. Padahal pengen tau gimana tanggapannya dia.

Kalau di dua buku sebelumnya, settingnya di Bandung, di buku ketiga ini ada juga bagian waktu Dilan ke Jogja, masa-masa Dilan nyari kuliah. Dan dari perjalanan itu, kita tau bahkan setelah Dilan putus dan gak berhubungan sama Lia pun, Dilan masih mikirin Lia!

Puncak bapernya baca buku ini adalah ketika Dilan seakan menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca di buku keduanya, waktu bagian Lia nelpon Dilan malem itu. Pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa Dilan nyerah gitu aja waktu diputusin Lia dan hal-hal lain yang tidak diceritakan Lia di kedua bukunya terungkap disini. Hm, dan semuanya emang salah paham aja! Ah! SALAH PAHAM!

Aku baca halaman perhalaman buku ini sambil berandai-andai.

 ‘Andai, Dilan dulu nanya langsung ke Lia, jangan malah diem-dieman.’
‘Andai, Lia juga ngomong ke Dilan waktu dia liat Dilan sama Risa.’
‘Andai, dulu Dilan sama Lia ngomong dan jujur satu sama lain, mungkin mereka masih bersatu’
Andai dan andai.

Aku nggak bisa bayangin gimana ada di posisi Dilan atau Milea. Mungkin, mereka masih saling cinta, tapi mereka baru tau jawaban-jawabannya setelah masing-masing ada yang punya. Nyesek! Nggak ada kata lain yang menggambarkan kesan setelah baca buku ini selain nyesek! Lewat buku ini, aku jadi belajar banyak kalau komunikasi dalam sebuah hubungan itu penting, penting banget! Karena tanpa komunikasi yang baik, kesalahpahaman itu gampang banget terjadi. Jangan sampe kejadian kaya Dilan dan Lia ini. Se-nyesel apa coba mereka?

Lewat buku ini, kita juga sedikit tau gimana menghadapi perempuan dari sudut pandang laki-laki. Ternyata, laki-laki pun – untuk beberapa kondisi – lebih senang diam dan memendam masalah yang dia rasain, kaya Dilan ini. Dan ya, sebagai perempuan, kita kadang gengsi kalau ngomong duluan, maunya laki-laki yang ngomong duluan. Kaya Lia ini, mana mungkin dong Lia nanya ke Dilan waktu itu soal Risa, apalagi posisi mereka saat itu udah jadi mantan. Perempuan mana yang gak gengsi nanya kayak gitu? Ah tapi kan..
Ada bagian di buku ini yang bikin aku merinding sekaligus hampir nangis, waktu bunda mengungkapkan kerinduannya sama Lia. “Dilan, Bunda rindu Lia”

Seperti yang udah kita tahu di kedua bukunya kalau Lia ini deket banget sama si Bunda, jadi waktu Dilan putus sama Lia, bukan cuma Dilan yang ngerasa kehilangan, tapi Bunda juga.

5/5 stars dari aku buat buku ini. Aku bener-bener suka! Walaupun ceritanya gak berakhir bahagia, tapi yah namanya juga realita. Justru menurutku dari kisah Dilan-Milea ini, banyak pelajaran yang bisa kita ambil supaya gak bernasib sama kayak Dilan dan Milea. Ah ya, buat yang udah baca Dilan 1 sama 2, harus banget baca buku ini, karena kalau engga, mungkin kamu ngerasain galau berkepanjangan kayak yang aku rasain sebelum baca buku ketiga ini! Soalnya buku kedua tuh kayak pertanyaan dan yang ini jawabannya. Jadi harus baca deh!

Mungkin buku ini jadi penutup romansa Dilan dan Milea ya? I just wanna say thank you buat surayah Pidi Baiq yang sudah mengenalkan karakter Dilan dan Milea lewat bukunya! Semoga surayah semakin aktif berkarya dan membuat Dilan Dilan yang lain! Semoga Dilan dan Milea nya juga sama-sama bahagia di kehidupan yang mereka jalanin – terlepas dari siapapun Dilan itu.


0 comment: