Rabu, 15 Februari 2017

Bhinneka Tunggal Ika, katanya...

Bhinneka – Tunggal – Ika, tiga kata yang saya pelajari dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ketika saya menginjak bangku kelas dua sekolah dasar. Artinya berbeda-beda tapi tetap satu tujuan, begitu kata guru saya.

source: https://www.pinterest.com/pin/122512052336663103/

Kala itu, untuk membuat seluruh muridnya mengerti akan maksud dari tiga kata tersebut, guru saya mengikatnya dalam sebuah kata bernama toleransi. Lebih jauh, ia menjelaskan arti toleransi itu artinya menghargai perbedaan orang lain, entah itu perbedaan suku, ras, atau agama. Di buku pelajaran pun, bab mengenai Bhinneka Tunggal Ika tak jauh-jauh dari paragraf seperti: Ujang dari Sunda, Tomo dari Jawa, dan Ucok dari Batak, walaupun mereka berbeda-beda mereka tetap berteman dekat dan tidak membeda-bedakan.

source: http://nahdliyyah.org/2015/04/bhinneka-tunggal-ika.html

Rasanya, bagi semua orang yang lahir dan hidup di tanah air Indonesia, semboyan Bhinneka Tunggal Ika ini pernah mereka dengar, bahkan pelajari, entah itu dalam bentuk sebuah pelajaran bernama Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan atau – generasi ibu bapa saya menamainya dengan Pendidikan Moral Pancasila. Rasanya guru-guru PKn pun akan tetap mempermudah pengertian semboyan negara ini lewat contoh bernama toleransi yang saya bahas di atas.

Buat saya, tiga kata dalam Bhinneka Tunggal Ika lebih mudah dimengerti ketimbang pelajaran Aljabar matematika. Jadi, kalau pemahaman kita tentang pelajaran Aljabar bisa lupa saking rumitnya, apa hal sama bisa terjadi juga pada kita dalam memahami Bhinneka Tunggal Ika?

Kadang, mengimplementasikan lebih sulit dari sekedar mengetahuinya, mungkin hal yang sama sedang terjadi pada bangsa kita. Bhinneka Tunggal Ika yang digaung-gaungkan itu nyatatanya seperti cukup diketahui saja – tidak untuk diterapkan filosofinya pada perilaku bernegara.

Belakangan ini, merasa bosan, miris, sekaligus cukup kesal melihat tayangan dan pemberitaan di televisi dan media lainnya yang itu itu saja. Media pun berlomba-lomba menyajikan headline semenarik dan semembakar mungkin. Sialnya, belum selesai satu masalah, masalah lain malah semakin menyebar dan membesar. Bak melempar api ke tumpukan busa, merembet. Salah satu dua kata ternyata bisa sefatal ini akibatnya, memecah belah negeri. Tak salahlah jika ada peribahasa Mulutmu, Harimaumu.

Namun, untuk apa ada polisi, hukum, dan undang-undang jika masih mau main hakim sendiri?

Mengapa malah lebih semangat dalam membuat api berkobar lebih besar dibanding mencoba memadamkannya? Jika memadamkannya sulit, setidaknya diamlah. Jangan malah menyulut api dan menimbulkan pertengkaran-pertengkaran lainnya. Melakukan tindakan seenaknya dan berlindung dibalik nama agama seolah mereka cukup suci, padahal agamanya tak pernah mengajarkan untuk berbuat kekerasan.

Indonesia bukan hanya ibu kota Jakarta, masih banyak pulau membentang dari Sabang sampai Merauke. Indonesia bukan hanya Muslim, masih banyak mereka yang ingin tenang ketika melakukan ibadah kepada Tuhannya.

Indonesia bukan hanya Jawa, masih ada Papua, Nusa Tenggara, Sumatera, dan lain-lainnya tak terkira.

Lantas, jika mereka berbeda dari kita, apa kita memiliki hak untuk membenci? Apa kita seolah-olah menjadi yang paling sempurna? Apa kita berhak menamai mereka sebebas mulut berkata?

Mengapa mudah sekali terprovokasi? Mengapa kecepatan jari tangan mengetik kata-kata kebencian lebih cepat daripada menggunakan otak untuk berpikir? Mengapa semudah itu menuduh, menghakimi, dan menyebar fitnah? 

Mengapa harus dengan kekerasan, cacian, makian, dan hinaan? Bukankah kita bersaudara? Bukankah Bhinneka Tunggal Ika? Ah, Bhinneka – Tunggal – Ika, katanya...

2 comment:

Muhammad Irsyad mengatakan...

seakan kita semua melupakan hal yang paling mendasar bagi kita untuk bernegara :)

Rhena Indria mengatakan...

Iyaa betul!