Sabtu, 06 Mei 2017

Review: Critical Eleven by Ika Natassa

  

Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 344 halaman
Tahun terbit: 2015


 Blurb:

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—
karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya 
terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu.
It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. 
Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, 
dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, 
setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

 Plot:

Bercerita tentang pertemuan Tanya Laetitia Baskoro dan Aldebaran Risjad di dalam pesawat tujuan Sydney, Anya yang biasanya duduk di sebelah om-om atau bayi yang sering menangis di setiap penerbangannya harus bersyukur karena di penerbangannya kali ini, ia duduk di sebelah Ale, cowok yang bikin Anya sedikit menaruh ekspektasi padanya.
Perjalanan Anya kali ini pun terasa special karena ia seperti menemukan sesuatu yang tak pernah ia temui di penerbangan-penerbangan sebelumnya, Ale. 
Asiknya obrolan mereka selama terbang membuat Anya berharap sesuatu pada Ale, untungnya Ale ternyata meminta nomor handphone Anya yang menjadi awal mula cerita manis pahitnya Anya dan Ale dimulai. 

 Thoughts:

Setelah menanti-nanti bisa membaca novel ini dari tahun lalu, akhirnya kesempatan saya untuk membaca novel ini datang juga. Untungnya, saya berkesempatan membaca kisah Ale dan Anya ini sebelum filmnya mulai release di bioskop. Nyaris, beberapa hari lagi. Tapi tidak beruntungnya, karena imajinasi saya tentang Anya dan Ale tidak bisa bebas lagi setelah tau bahwa Reza Rahadian dan Adinia Wirasti akan memainkan peran Anya dan Ale. Jadi yang saya bayangkan ketika membaca novel ini ya mereka berdua. Hmm, kecewa. Ya salah saya ya.


Saya membaca novel ini dengan ekspektasi yang tinggi karena hype nya novel ini. Makanya, antusias sekali membacanya. Sayangnya, nggak sesuai yang saya harapkan sih sebenarnya. 
"Expectation is a cruel bastard, isn't it? It takes away the joy of the present by making us wondering about what will happen next." (p.17)

Anyway, novel ini adalah novel pertama Ika Natassa yang saya baca. Tapi terlepas dari ekspektasi saya, nggak butuh waktu lama buat saya untuk menyukai karya Ika. Gaya bertutur Ika dalam novelnya benar-benar membuat saya takjub. Smooth sekali dan jauh dari kata membosankan. Membaca novel ini benar-benar terasa nyata karena Ika Natassa mendeskripsikan suasana di setiap scene nya secara realistis, menunjukan kesungguhan Ika Natassa dalam membuat novel ini

Yang saya suka juga karena Ika ini bener-bener serius membangun karakter tiap tokohnya. Anya digambarkan sebagai seorang wanita karir super sibuk yang sangat pintar. Ika pun menunjukannya lewat novel ini, meyakinkan bahwa Anya bener-bener seperti itu.

Ale, si tukang minyak juga dideskripsikan bagaimana pekerjaannya sebagai tukang minyak yang harus hidup jauh dari Anya, terasa hidup.
Karakter Tara dan Agnes sebagai teman Anya juga membuat novel ini makin seru. Kebayang punya sahabat seperti Tara dan Agnes, bener-bener menyenangkan pasti.

Konflik yang dihadirkan di novel ini pun menarik, berkisah seputar konflik rumah tangga, bagaimana satu kalimat bisa membuat hubungan Ale dan Anya renggang selama berbulan-bulan. Kadang saya suka gereget juga sama karakter Anya yang terlalu melebih-lebihkan, well... saya mungkin bisa ngomong gitu karena belum pernah mengalami jadi Anya kali ya. Tapi, saya ngerti sih gimana konflik batin Anya. Dia tau dia salah dan kesalahannya ini juga gak dia pengenin, tapi bukannya nenangin kesedihannya Anya, justru Ale ini seolah-olah menyalahkan Anya. Di sisi lain, saya juga kagum sama karakter Ale yang gak gentar dan gak cape tetep jadi Ale yang biasanya walaupun Anya udah berubah bukan jadi Anya yang biasanya. 

Overall, saya menikmati sekali karya Ika Natassa satu ini, walaupun tidak sesuai ekspektasi Paling suka sama gaya penulisannya yang quote-able sekali. Salut juga karena bisa bikin novel ini jadi terkesan hidup. Kedepannya mau baca cerita-cerita Ika lainnya. Anyway, selamat menonton filmnya juga ya, beberapa hari lagi nih! Ehehe.

4.5/5 stars for Critical Eleven by Ika Natassa.

2 comment:

Beautyasti1 mengatakan...

Kalau di compare sama movie nya gimana mba? Btw aku baru tau loh, critical eleven itu masa masa 'tegang' di pesawat.. Jadi was was deh hhihii

Rhena Indria mengatakan...

Walaah aku belum bisa compare sama movienya karena belum nonton hihi.