Selasa, 24 Januari 2017

Review: Pulang by Leila S. Chudori





Blurb

Paris, Mei 1968.
Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.
Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris, Dimas bersama tiga kawannya, Nugroho, Tjai, dan Risjaf -terus menerus dikerjar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari - Isteri Hananto – yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.
Jakarta, Mei 1998.
Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya, Bersama Segara Alam, putera Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Thoughts

Itulah beberapa paragraf yang tertulis di bagian belakang buku Pulang karya Leila S. Chudori. Paragraf demi paragraf yang justru saya baca setelah saya selesai membaca bukunya. Konyol bukan? Jika biasanya saya memilih novel atau buku yang akan saya baca lewat blurb yang terletak di cover belakang buku, hal berbeda terjadi ketika saya memilih buku ini dari ribuan buku-buku yang mejeng di Dispusipda Jawa Barat. Nama Leila S. Chudori yang benar-benar baru pertama kali saya baca namanya membuat saya tanpa pikir panjang memutuskan buku ini untuk jadi bacaan saya selanjutnya. Saya juga belum pernah membaca atau mendengar review dari novel bersampul kuning tua ini. Justru baru tahu ternyata bukan hanya saya yang menganggap buku ini bagus setelah melihat kolom komentar di laman goodreads tentang buku ini. Lantas mengapa saya memilih buku satu ini? Ketidaksengajaan yang sempurna.

Ya, buku ini boleh dibilang buku lama, buku ini diterbitkan tahun 2012 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Sudah cukup lama, bukan? Seperti yang saya bilang sebelumnya, buku ini memiliki magnet sehingga membuat saya tertarik mengambil buku ini diantara banyaknya buku yang berjejer di rak perpustakaan. Kebetulan memang saya sedang mencari bacaan yang agak sedikit berat; yang ceritanya tidak melulu tentang pasangan kekasih yang dilanda konflik dan berakhir dengan drama bahagia ala cerita dongeng.

Tanpa harus saya jelaskan lebih dalam lagi, buku ini berkisah tentang Dimas Suryo, seorang eksil politik yang terpaksa dan dipertemukan takdir untuk harus terbang ke luar negeri; meninggalkan tanah air tercinta, Indonesia. Tanpa ia sangka, tempat yang di benaknya ia anggap ‘pengasingan’, ternyata merupakakan tempat hatinya berlabuh pada wanita cantik asal Paris, Vivienne Deveraux.
Novel ini mengambil latar di Prancis dan Indonesia. Cerita tiga peristiwa bersejarah di dua negara tersebut; Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Inonesia Mei 1998.

Novel ini menurut saya adalah sebuah ‘paket komplit’. Selain menyuguhkan pelajaran sejarah dan politik Indonesia di tahun 1968 – 1998 yang dikemas seindah mungkin, lewat novel ini, Leila juga menyuguhkan cerita persahabatan empat orang lelaki; Dimas, Nugraha, Tjai, dan Risjaf yang selanjutnya dikenal dengan nama empat pilar Tanah Air. Bagaimana pengalaman manis serta ketir nya mereka jauh dari tanah air; meninggalkan orang tersayang di tanah air. Di satu sisi, makna perjuangan pun terasa sangat kental di novel ini, tentang bagaimana mereka berusaha tetap ‘hidup’ dengan situasi apapun, perjuangan mereka membangun Restoran Tanah Air di Paris yang jauh dari kata mudah, perjuangan mereka menerima teror sepanjang hidup dan betapa tidak tenangnya menjalani hidup sebagai mereka yang dianggap ‘tahanan politik’.

Yang tak bisa dilupakan, novel ini juga berkisah cinta segitiga yang di alami dua generasi; ayah dan anak. Tentang Dimas Suryo yang masih diliputi bayang-bayang Surti Anandari di tengah-tengah pernikahannya dengan Vivienne juga tentang Lintang Utara yang gamang memilih Narayana; pria tampan blasteran Prancis-Indonesia yang sudah menjalin kasih dengan Lintang sejak lama ataukah Segara Alam; putra bungsu Surti Anandari, si le coup de foudre yang menggetarkan hatinya sejak pertama kali bertemu.

Saya sangat menikmati membaca lembar demi lembar novel Leila S. Chudori ini, sangat amat menikmati. Saya dibuat ketagihan ingin terus membaca novel ini hingga akhir, tanpa rasa bosan dan tanpa rasa malas. Akibatnya, novel 464 halaman ini berhasil saya lahap dalam waktu kurang lebih dari dua malam saja. Walaupun berganti-ganti sudut pandang, tapi tak serta merta membingungkan saya karena cara penuturan nya yang begitu lembut. Rangkaian surat-surat panjang yang dilampirkan di novel ini juga menyegarkan bacaan menurut saya; seperti benar-benar sedang membaca surat.

Novel ini juga cukup mengguncang perasaan saya membaca bagaimana Indonesia di kala itu. Saya, generasi tahun 1990-an yang hanya tau sekilas sejarah G30 S PKI ataupun demo penurunan presiden Soeharto kala itu dibuat terbuka pandangan saya bagaimana menyeramkannya Indonesia kala itu. Rusuh.

Yang saya suka dari buku ini juga karena penulis telah mengenalkan saya kepada orang dan karya karya hebat yang beliau tuliskan di novel ini. Beberapa nama seperti T.S. Elliot, John Steinbeck, Shakespeare, James Joyce dan masih banyak lagi ditulis di novel ini. Juga, tokoh-tokoh pewayangan seperti Ekalaya dan Arjuna.


Kalau saya rating, mungkin saya akan kasih 4.5/5 untuk bacaan sekeren ini. Sangat sayang baru membaca karya hebat ini sekarang, tapi gak apa apa, daripada tidak sama sekali ya? Highly Recommended. 

2 comment:

Nita Lana Faera mengatakan...

Wah ini mah novel best seller. Beruntung lah dirimu mba bisa dapat, haha... karena saya dulu mau beli, eh udah terlanjut beli buku yang lain. Ini sejenis buku2nya mba Oky Madasari. Tema2 yang wow...

Rhena Indria mengatakan...

Iya hahaha dan ini pun nggak sengaja ada di perpustakaan. Awalnya gak nyangka bakalan sekeren ini bukunya, akhirnya saya ketagihan juga baca karya sejenis lainnya hehe. Saya juga lagi cari-cari bukunya Oky Madasari hehe.