Jumat, 20 Januari 2017

Review: Negeri 5 Menara by A. Fuadi







Buku ini adalah buku pertama dari sebuah trilogi yang ditulis Ahmad Fuadi. Diterbitkan pertama oleh Gramedia di tahun 2009, buku ini menjadi buku yang masuk deretan national best seller. Berkisah tentang perjuangan Alif Fikri yang harus mengubur impiannya masuk SMA setamat menimba tiga tahun ilmu di sebuah Madrasah Tsanawiyah di daerah Maninjau, Sumatera Barat.

Impiannya untuk menimba ilmu di SMA Bukittinggi, lalu berkuliah di ITB, dan terus ke Jerman seperti Pak Habibie pupus sudah setelah perbincangan dengan Amak di langkan rumah malam itu. Amak lebih ingin anak bujang nya itu masuk sekolah agama; tidak ke SMA seperti harapannya. Perintah Amak bukan sesuatu yang bisa di bantah. Tiga hari mogok bicara dan mengurung diri di kamar pun tak membuat keinginan Amak goyah.

Dengan setengah hati, akhirnya Alif Fikri memutuskan melanjutkan sekolahnya ke sebuah pondok di Jawa Timur, Pondok Madani. PM, sebuah tempat bersejarah di hidup seorang Alif Fikri; perantau dari kampung nan jauh disana. Pondok penuh perjuangan dan sarat akan pelajaran. Di tempat ini pula, ia bertemu kawan yang menemani perjuangannya empat tahun belajar di Pondok; Raja Lubis, Said Jufri, Baso Salahuddin, Dulmajid, dan Atang. Perbedaan latar belakang membuat mereka mengenal satu sama lain, bertukar cerita, bertukar mimpi, dan bersama-sama mewujudkan mimpi itu. Enam orang sahabat yang selanjutnya dikenal dengan nama Sahibul Menara.

“Bagaikan menara, cita-cita kami tinggi menjulang. Kami ingin sampai di puncak-puncak mimpi kelak.”

Opinion

Saya mungkin telat membaca buku ini, namun saya tidak menyesal karena setidaknya saya pernah membaca buku hebat dari Ahmad Fuadi satu ini. Cover depan bertuliskan Indonesia’s Most Inspiring Novel membuat mata saya terfokus pada Negeri 5 Menara ini. Saya sangat menikmati membaca buku ini, tidak ada kata malas sedikitpun untuk membaca buku ini. Bacaan yang membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikannya, saya pun ikut larut dalam suasana Pondok Madani yang diceritakan Alif.

Kata demi kata dan kalimat demi kalimat di buku ini mengalir begitu saja, tidak membuat pembaca lantas kebingungan memahami maksudnya. Membaca buku ini serasa mendengar seorang teman bercerita bagaimana kehidupannya di pondok pesantren, sangat menarik.

Emosi saya juga menjadi satu dengan tokoh-tokoh di novel ini. Saya merasakan bagaimana konflik batin yang dirasakan Alif. Sangat ngena. Gimana rasanya ketika kamu punya mimpi dan telah merancang poin-poin menuju kesana lalu dengan tiba-tiba seseorang meminta untuk mengubah haluan. Sakit. Yang paling menyakitkan ketika bagian Alif bersurat dengan Randai; karibnya di Maninjau yang mimpinya bisa terwujud, masuk SMA, lalu kuliah Teknik Mesin di ITB. Impian yang sama dengan yang Alif mimpikan. Hal itu pula yang membuat Alif bimbang. Untungnya, nasihat Amak, kawan-kawan, dan guru-guru bisa menguatkannya.

Membaca buku ini jadi terbayang bagaimana kehidupan di pondok pesantren yang mungkin tidak semua pondok sehebat Pondok Madani ini. Ketatnya peraturan pondok memaksa Alif dan kawan-kawannya untuk terbiasa mengikuti arus. Saya pun jadi tahu beberapa istilah dan sistem yang ada di Pondok Madani lewat buku ini, seperti jasus contohnya.

Tak heran buku ini menjadi buku inspirasi paling dahsyat. Setelah membaca buku ini pun, saya hening dan diam sejenak; otak saya berputar dan mencerna. Keadaan ini tak jauh beda setelah mengikuti seminar ESQ. Nasihat, petuah, dan inspirasi di buku ini benar benar ngena!

Highly recommended, nilai sempuna untuk buku hebat satu ini. 

0 comment: