Senin, 22 Februari 2016

1001 Kenangan bersama Bandung

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar atau membaca kata Bandung? Pastinya, tempat wisata, tempat makan enak, surganya belanja, dan hal-hal seru lainnya yang dapat dilakukan di kota ini.
Namun, Bandung di pendapatku tak sekedar itu. Bagiku, Bandung adalah kehidupan. Lahir dan dibesarkan di kota kembang selama lebih dari 18 tahun ini memberikan arti lebih luas dari makna Bandung untukku. 


Bandung di mataku tak hanya tempat bersenang-senang, tapi tempat bagiku belajar dan memaknai bagaimana kehidupan itu sebenarnya.

Melalui tulisan ini, izinkan aku menceritakan bagaimana luasnya makna Bandung buatku. Sebisa mungkin, akan kuceritakan seindah-indahnya seindah cerita yang selalu mama dongengkan untukku di setiap malamnya. Selamat masuk ke dalam ceritaku, semoga kamu bisa tersenyum juga seperti aku yang tersenyum-senyum seraya mengetik kata demi kata tulisan ini, mengenang bagaimana indahnya Bandung di ingatanku.
Kedua orang tuaku dipertemukan di kota ini. Ayahku yang asli Bandung bertemu Ibuku, seorang pendatang dari Garut; daerah yang tak begitu jauh dari Bandung. Aku lahir di kota kembang ini, tepatnya di sebuah rumah bersalin di daerah Cicadas. Kian hari, aku tumbuh besar, di besarkan di bawah teduhnya kota Bandung. Hingga akhirnya, aku beranjak besar,  mengenyam pendidikan mulai dari TK hingga saat ini duduk di semester dua perguruan tinggi di Bandung.  
Dimana hayo?
Tinggal selama itu di kota ini tak serta merta membuatku benar-benar mengenal kota ini. Bahkan mungkin, pengetahuanku tentang Bandung bisa jadi kalah oleh turis yang baru seminggu berkunjung ke Bandung. Apalagi, kalau ditanyai seputar tempat wisata di kota Bandung. Sepertinya aku kalah telak.
Selama tinggal di kota ini, kemana sajakah aku? Jawabanku, hanya mendekam di rumah dan hanya keluar rumah untuk pergi ke kampus saja. Paling banter, sesekali pergi keluar rumah untuk jalan-jalan walaupun hanya sebentar saja. Kalau kata kang Emil sih, aku kurang piknik. Makanya, jangan harap aku akan menuliskan rekomendasi  tempat-tempat wisata di Bandung di tulisan ini ya, karena aku saja mungkin belum pernah kesana. Tapi bagiku, Bandung tanpa tempat wisata pun sudah sangat nyaman. Atmosfir yang hangat, warga yang ramah, awan yang teduh, dan rimbunnya pepohonan seperti di sepanjang jalan Cipaganti sudah lebih dari cukup membuat Bandung tempat yang nyaman ditinggali. Eh tapi, masih pantaskah deskripsi itu untuk Bandung?

Sepertinya itu deskripsi Bandung di tahun 1990-an menurut cerita Papa. Ah, terlepas dari Bandung dan sejuta permasalahannya, aku benar-benar bersyukur bisa ditakdirkan untuk tinggal di tempat yang nyaman ini. Kadang, aku merutuk kesal ketika dihadapkan dengan macet yang menghalangiku di senin pagi menuju kampus. Itu membuatku deg-degan bukan main, kesal, dan ingin menangis. Padahal dulu, rasanya macet di Bandung tak separah ini. Ah, aku mengerti sekarang. Kota yang nyaman ini, siapa yang tak mau tinggal di kota ini? Ribuan orang berbondong-bondong menempati kota ini. Otomatis, akibatnya adalah bertambahnya jumlah penduduk yang berimbas pada macet panjang. Ratusan bahkan ribuan orang memenuhi  jalanan kota Bandung setiap harinya dengan kepentingan yang berbeda-beda. Ya, aku yang harus bangun dan berangkat lebih pagi.

Aku tinggal di Bandung timur, tepatnya daerah Arcamanik. Cukup jauh dari pusat kota Bandung.  Jarak dari rumahku ke kampus  saja  lumayan jauh, 16 KM. Ya, jauh sekali. Perjalanan itu aku tempuh setiap harinya menggunakan si hijau. Dia adalah angkot trayek Cicaheum-Ledeng yang setiap harinya mengantarkan aku ke kampus. Butuh dua jam perjalanan menuju kesana kalau gak macet. Dan tahukah kamu? Aku adalah penumpang paling lama setiap harinya, naik dari terminal hingga turun lagi di terminal. Setiap hari, aku menyusuri jalan Cicaheum, jalan Supratman, jalan Tamansari, jalan Cipaganti, jalan Sukajadi, hingga tibalah di jalan Setiabudi. Wah jauh sekali.

Sejauh itu juga perjalananku di kota ini. Jutaan tawa telah aku luapkan disini, begitupun dengan ribuan tetes air mata. Kota ini terlalu komplit. Kota ini menyimpan banyak kenangan untuk hidupku. Kota ini seperti saksi, Bandung adalah kamera kehidupanku. Momen demi momen ia potret dan hasil potretan itu mungkin tak akan bisa ku lupakan seumur hidupku. Satu persatu momen itu saling berkaitan, tanpa disengaja.

Waktu aku kecil, destinasi perjalananku  setiap liburan adalah pergi ke Kebun Binatang Bandung yang berada di Jalan Tamansari. Terkadang, aku pergi kesana bersama sepupu-sepupu kecilku. Main ke Kebun Binatang di waktu itu adalah momen paling bahagia. Namun, seiring berjalannya waktu dan seiring tumbuh besarnya aku, Kebun Binatang rasanya hambar. Bahkan aku pernah berucap “Ngapain sih ke bonbin, nggak rame” Entah, aku tak mengerti mengapa waktu dapat merubah sesuatu yang dulu sangat aku sukai menjadi aku hindari. Mungkin karena Kebun Binatang Bandung yang semakin kotor, banyak hewan yang mati, dan merajalela nya tempat wisata baru yang lebih mengasyikan  di kota ini, membuat aku ogah-ogahan pergi ke Kebun Binatang. Namun, Kebun Binatang juga merupakan tempat yang terpotret dalam kenangan itu, aku tak akan mungkin bisa melupakan bagaimana girangnya aku bisa naik unta untuk yang pertama kalinya, menyentuh ular secara langsung, dan melihat harimau secara langsung saat itu. Dan seperti yang aku katakan, momen-momen itu saling berkaitan. Setiap melihat Kebun Binatang yang kulalui tempatnya hampir setiap hari, kenanganku kembali ke masa itu. Masa kecil yang penuh bahagia.
Gedung Sate di tahun 2002

Perayaan malam tahun baru 2014 lalu, untuk pertama kalinya, aku menyaksikan bagaimana indah, ramai, dan meriahnya Bandung di malam tahun baru. Saat itu, saudaraku mengajakku nonton sebuah pertunjukan di Dago. Jam menunjukan pukul 10 malam. Malas, ini kan waktunya tidur, bukan keluar rumah. Tapi difikir-fikir, aku belum pernah menyaksikan bagaimana Bandung di malam tahun baru secara langsung. Akhirnya aku menurut saja dan tahukah kamu? Excited! Begini ya serunya di malam tahun baru. Saat itu juga, aku percaya, orang Bandung pada bahagia. Karena excited nya aku, kami sampai diajak mengelilingi Bandung; ke Tegalega, Alun-alun, Asia Afrika, Gasibu. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi itu pengalaman yang mengasyikan sampai menyisakan gelak tawa dan momen tak terlupakan setelahnya.

Apalagi yang harus aku ceritakan?

Ah ya, pengalaman tak terlupakan bersama teman-teman baikku semasa SMA. Saat itu, kebetulan hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang Idul Fitri. Seperti biasa, yang terjadi hanya Halal Bihalal saja dan akhirnya pulang cepat. Entah kenapa, tiba-tiba saja ide untuk main meluncur dari otakku dan disambut baik kedua temanku. Akhirnya, rencana hangout yang telah lama direncanakan kalah juga dengan ide spontan dari otakku. Kami pun main ke daerah Jalan Belitung. Rencananya, kami akan makan steak karena disitu ada tempat makan steak yang terkenal. Setiba disana, tempatnya belum buka. Kami terlalu excited sampai tak melihat kalau ini baru jam setengah 8 pagi dan tempat itu baru buka jam 12 siang. Restoran mana yang buka sepagi ini selain tempat makan bubur ayam. Daripada pulang dengan perasaan kecewa. Aku mengutarakan ide kepada kedua temanku yang tampak kebingungan saat itu. “Gimana kalau main ke Taman Musik, yuk?” Entah kenapa, ide itu muncul di kepalaku, padahal sungguh, aku belum pernah kesana, cuma ngelewat sekilas sewaktu akan pergi ke sebuah tempat. Aku asal jeplak aja karena itu taman yang baru dibuka pak Ridwan Kamil beberapa bulan lalu. Mereka pun lagi-lagi menyambut antusias. Dan ternyata… kami malah nyasar! Parahnya lagi, kami berjalan kaki. Betapa tersiksanya mereka karena aku. Padahal sebenarnya, Taman Musik tak jauh dari tempat steak itu. Ah, memalukan. Setelah nyasar lama, akhirnya ketemu juga Taman Musik itu. Kami diam disana, menikmati semilir angin, hangatnya matahari pagi, dan wifi. Kami juga sempat foto-foto disana, momen berikutnya yang diabadikan di kota ini. Lihat wajah ceria kami, sekalipun harus nyasar dulu sebelumnya.


Setelah lelah foto-foto , kami pun memutuskan untuk duduk-duduk disana. Suasana pagi itu tak begitu ramai. Tiba-tiba saja, sosok seorang yang aku amat kenali muncul di hadapanku. Dia adalah kang Emil! Shock, dan tiba-tiba kang Emil datang menghampiri kita bertiga.

“Lagi ngapain ini disini?”
“Main pak.” ujar kami serempak
“Bolos ini teh?”
Entah kenapa, kang Emil bisa ngomong gitu. Tapi pantas sih, orang pagi-pagi kami disini, mengenakan seragam SMA pula. Baru ingat.
“Nggak atuh pak, kan cuma halal bihalal”

“Oh bagus-bagus”
“Oh iya pak, belum minal aidzin sama bapak.” Temanku tiba-tiba nyeletuk dan salam ke kang Emil. Herannya, aku malah mengikuti.
“Gimana ini wifinya kenceng ya?” tanyanya
“Iya kenceng pak, ini lagi download
“Coba saya lihat” kang Emil ngambil handphone saya dan ia coba untuk browsing. Huaaa, handphone saya dipegang.
Tak terlalu ingat bagaimana percakapan lengkapnya. Yang jelas, saat itu, ada wartawan juga yang membuntuti kang Emil dan jadinya kita malah di wawancara bareng kang Emil.
Kang Emil pun melengos pergi, tiba-tiba rame dan pas dilihat ternyata ada yang mau foto bareng sama kang Emil. Dan seketika terfikir. “kenapa bukan tadi minta foto, padahal ngobrol”. Teman saya pun berfikiran sama sepertinya, dan tanpa berbicara, kami berlari ke arah yang sama seolah mengerti maksud satu sama lain. Kami pun harus sedikit antre buat foto sama Kang Emil.

Bangga menjadi orang Bandung dengan segala kelengkapannya. Termasuk dengan wali kota nya sendiri yang begitu aku kagumi. Low profile, ramah, santai, gaul, ganteng, tapi kontribusinya banyak. Dimana coba bisa ngajak foto walikota? Boro-boro walikota yang super sibuk, artis aja yang baru terkenal dikit, udah ogah dan nolak diajak foto. Tapi dengan ramahnya, kang Emil bersedia diajak foto. Pemimpin yang saya kagumi, bahkan beliau menjadi inspirasi saya menulis descriptive text untuk tugas kuliah.
Setelahnya, aku berbicara kepada kedua temanku “Tuh kan, udah takdirnya kita harus nyasar dulu. Jadinya kan bisa ketemu kang Emil” ujarku. Teman-temanku mungkin terpaksa mengiyakan. Tak terasa, waktu sudah jam 12 lebih dan artinya tujuan awal kami sudah buka. Hari itu, menjadi hari tak terlupakan bagi ku sendiri. Sekaligus, menjadi hari yang paling aku rindukan. Rindu, mereka berdua, orang yang aku bikin nyasar dan terpaksa berjalan cukup jauh, tapi mereka tertawa saja dengan senangnya. Tak menghiraukan, aku yang khawatir akan mereka. Entah, bagaimana di hati mereka.  Yang jelas, aku rindu momen itu.

Momen indah selanjutnya adalah jalan-jalan mengitari Bandung bersama keluarga. Jauh-jauh hari, Papa merencanakan, di libur Idul Fitri, kita bakalan main. Main versi keluarga kami bukan main ke tempat wisata seperti kawah putih, tangkuban perahu, dan sebagainya. Yang namanya main adalah keluar rumah, terserah kemana saja. Untungnya, hari itu mainnya agak jauh, ke Asia Afrika. Aku menyarankan tempat itu biar bisa foto-foto HEHE. Papa pun setuju dan pergilah kami kesana. Papa bersama adik-adik naik motor dan aku naik bus Damri ditemani Mama. Setibanya disana, cuaca Bandung saat itu nampak bersahabat. Cerah dan hangat seperti perasaanku hari itu. Kami berfoto disana, setelah itu kami berjalan-jalan mengitari jalan Braga, hingga akhirnya terdampar di Balai Kota. Seru! 
07'14


Bisa meluangkan waktu untuk piknik bersama keluarga, bagiku hal yang amat membahagiakan, karena kesempatan itu jarang sekali terjadi. Dan detik ini, aku rindu masa itu. Rindu bisa main bersama keluargaku, mengingat betapa sempitnya waktu buatku yang setiap harinya hanya memelototi jadwal deadline. 

Aku juga salah satu orang yang tercengang mengamati Bandung di bawah komando Kang Emil. Kaget ketika Alun-alun Bandung yang dulunya jadi tempat mainku sambil beli kaset di Kota Kembang disulap menjadi tempat yang sekelilingnya dipenuhi rumput sintetis hijau. Hal itu juga yang menyebabkan Alun-Alun Bandung saat ini seramai sekarang. 

Jujur, aku kurang update. Masak orang Bandung baru main ke Alun-Alun Bandung yang ada rumputnya setelah beberapa bulan diresmikan. Saat melihat betapa ramainya suasana Alun-alun, kembali, aku kagum. Kang Emil dengan pemikirannya yang Out of the Box. Benar-benar kefikiran ya bikin ginian. Saat itu juga, saya melihat lebih banyak tawa di Alun-Alun. 
Pardon ma' face. Untuk bayangan aja bagaimana ramainya
Alun-alun Bandung
Jauh sekali seperti Alun-alun yang saya kunjungi sekitar dua tahun lalu. Alun-alun yang isinya tukang ketan bakar, tukang pakaian, tukang cuanki yang saya kangenin, cuankinya, nenek-nenek yang jualan sate, hingga tukang mainan yang jelas sekali nampak gurat kelelahan di  wajahnya.  Sekarang, Alun-alun itu disulap menjadi tempat untuk berbahagia dan tertawa, seakan orang-orang yang ada disana tak punya beban dan masalah dalam hidupnya. Kaya – miskin, Dokter – Pedagang asongan, Bayi – Lansia semuanya tertawa. Seakan meyakinkan bahwa bahagia itu sesederhana melihat Alun-Alun yang alasnya bisa dipakai tiduran.



Dan semua kejadian yang aku alami di kota ini memberikan aku penjelasan bahwa kota ini adalah tempat untuk menjadi bahagia, sebahagia aku saat ini, mendengar rintik hujan sambil memutar kembali memori tentang Bandung di ingatanku.

Bandung, 21 Februari 2016: 18.49
Ditemani rintik hujan yang tak kunjung berhenti sejak sejam tadi, seolah-olah menemani untuk terus menulis.