Judul: O
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 470 halaman.
Blurb:
Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan Kaisar Dangdut.
Plot:
Bercerita tentang Entang Kosasih, seekor monyet jantan yang percaya akan kata-kata leluhurnya, Armogundul, bahwa seekor monyet bisa berubah menjadi manusia jika ia berperilaku mirip manusia. Rasa percaya itulah yang menjadi awal mula revolver Sobar, seorang polisi yang sedang ditugaskan berjaga di Rawakalong, berpindah ke tangan seekor monyet jantan. O yang memandang Entang Kosasih, sang pacar, dari jauh menatap Entang Kosasih dengan penuh kecemasan. Dan... DOR! peluru yang dilepaskan Sobar tepat menyasar si monyet jantan. Detik itu juga, O yakin, kekasihya telah berubah menjadi seorang manusia.
Thoughts:
Lega, adalah satu kata yang bisa mewakilkan perasaan saya setelah menamatkan 470 halaman buku Eka Kurniawan yang satu ini. Bagaimana tidak? Setelah penantian lama, akhirnya saya bisa juga membaca karya yang sangat ramai dibicarakan ini. Judul yang cuma satu huruf dan blurb yang cuma beberapa kata dan sangat nyeleneh itu membuat saya penasaran. Apalagi membaca review review orang di goodreads tentang novel ini membuat saya makin penasaran akan karya Eka Kurniawan satu ini. Cerita 'semi-fabel' yang katanya bisa bikin orang-orang bersumpah serapah membacanya! Itulah juga yang saya alami saat membaca novel ini.
Awalnya, saya kaget ternyata bukunya bisa setebal ini, toh. Dan awalnya saya sangsi bisa menamatkan novel itu dalam waktu cepat. Tapi setelah membuka halaman-halaman pertama novel itu, keraguan saya pun terbantahkan. Terbukti, saya anteng baca sampai beberapa chapter novel ini padahal waktu itu saya lagi UAS. Bener-bener dah mas Eka ini!
Baca novel ini bikin segala jenis emosi saya tumpah ke karya satu ini. Selain bisa bikin saya bersumpah serapah, baca O ini juga bikin saya ngakak, ngeri, bahkan jijik sampe mau muntah. Nggak kalah seru, novel ini juga bikin saya kesel dan penasaran! Gimana gak kesel, lagi asik asik baca cerita tentang seekor monyet jantan yang nodongin revolver ke arah polisi dan lagi nungguin gimana kelanjutannya, eh ceritanya malah bersambung ke cerita monyet betina yang lagi galau gara-gara dijadiin topeng monyet. Kesel beneran, bikin pengen baca terus terusan.
Selain itu, novel ini juga asik. Kenapa asik? Karena kayanya cuma dari novel ini, saya bisa membaca curahan curahan hati seekor anjing, ikan, burung kakatua, revolver, bahkan sampai kaleng sarden! Asik beneran. Saya pun sampe dibikin geleng-geleng bacanya. Heran kenapa bisa kepikiran sebegitunya.
Tapi cerita yang saling nggak nyambung antar chapternya itu justru bikin novel ini terasa rame. Ada sensasi tersendiri bacanya, kayak lagi nyusun bagian-bagian puzzle. Ketika saya dibuat kebingungan dengan akhir cerita di chapter 1 yang ngegantung, di chapter 8, saya temuin jawaban dan kelanjutannya yang bisa bikin saya melongo dan cuma ngomong 'Oooo'.
Novel ini juga banyak banget tokohnya, kayak tadi saya bilang kaleng sarden pun bisa punya peran dan cerita sendiri di novel ini. Walaupun kadang di beberapa bagian, saya kebingungan karena ada satu tokoh yang tiba-tiba diceritain padahal saya gak tau dia siapa, tapi seiring lembar demi lembarnya saya buka, saya paham dan puzzle itu pun bisa saya buat jadi satu gambar utuh.
Dan dibalik keabsurdan, keanehah, dan kenyelenehan novel ini. You need to know that there are lots of value inside this piece of work! Bagaimana struggle nya seekor monyet yang pengen jadi manusia dan bagaimana seorang manusia justru mati-matian pengen jadi binatang. Dan emang masing-masing bagian dari novel ini punya nilai tersendiri yang menurut saya bikin O ini worth to read. Penggambaran binatang untuk masing-masing tokohnya ini semacam menyimpan makna tersendiri. Agak nyesel juga karena baca novel ini buru-buru padahal kalau dibaca pelan dan nyantai, pasti feelnya bakal dapet banget.
5/5 stars buat 'O' yang bikin saya terpesona akan kehebatan Eka meramu cerita sehingga jadi sedemikian rupa! Worth to read!
Anyway, ini karya pertama Eka Kurniawan yang saya baca. Next, kayanya saya harus banget baca karya-karyanya yang lain. What's next?
Comments