Senin, 18 Januari 2016

Berpisah...


“Papa kamu mana? Aku mau kenalan sekalian pamit”
OMG, ini yang saya takutkan.
“Nggak apa-apa, gak usah” ujar saya yang saat itu benar-benar takut kalau ia akan menghadap ayah.
“Ih, aku nggak nanya kamu mau atau nggak. Tapi nanya papa kamu dimana?”
Saya kikuk kehabisan kata-kata, bingung harus mengeluarkan alasan apalagi agar ia tak menemui ayah.
Masalahnya, saya belum lama mengenalnya. Eh, saya ralat, sudah lama sih mengenalnya lebih dari empat tahun, tapi empat tahun yang berlalu itu cuma memberikan waktu seperti seujung kuku, hanya beberapa menit bertemu, singkat sekali. Saya takut kalau ia bukan laki-laki baik-baik, nanti setelah saya kenalkan dia malah kabur lagi. Eh, memangnya kenapa? Ia kan hanya ingin berkenalan sekalian pamit sehabis mengantar saya saja. Ah, kenapa saya kepedean sekali, tapi wanita mana yang tidak berfikir yang tidak tidak kalau seorang pria mau menemui ayahnya, pasti ada maksud tertentu.
“May?” ia membuyarkan lamunan saya
“Sebaiknya kamu pulang saja, ini sudah malam juga, kan” ucap saya gelagapan
“Oh, kamu tak mau ya aku bertemu ayahmu? Baiklah, nggak apa-apa”
“Eh, bukan begitu maksud saya, tapi… tapi…” saya berusaha membuatnya tidak menyalah artikan perkataan yang saya ucapkan
“Lalu kenapa?”
Dia malah bertanya, ngotot sekali, sih. Saya kembali harus mencari alasan apa yang masuk akal untuk membuatnya tak bertemu ayah.
“Maksud saya adalah ayah pasti sudah tidur. Ia tak pernah tidur terlalu malam, soalnya ia harus banyak beristirahat” ucap saya meyakinkannya
“Oh, begitu ya. Baiklah, kapan-kapan saja aku berkenalannya. Titip salam saja buat ayahmu. Kamu masuk rumah sana, sudah malam.”
“Ah iya.”
Saya pun memberikan seulas senyum padanya dan berbalik. Namun, baru beberapa langkah…
“May…”
Saya menoleh, saya melihat raut mukanya tampak kebingungan, seakan-akan banyak kata-kata yang ingin meluncur dari bibirnya
“Apa?”
“Eh, ehm, makasih banyak ya, hari ini sudah nemenin aku dan maaf tadi kita nggak jadi nonton. Nanti aku atur lagi waktu untuk kita nonton ya. Sekali lagi terima kasih banyak”
Saya kembali tersenyum padanya, entah sejak kapan saya menjadi murah senyum begini, terlebih ke orang yang baru saya kenal. Ah, ditambah lagi kata-katanya begitu mendebarkan hati walau cuma mengucapkan terima kasih.
“Iya, sama-sama. Makasih juga sudah mengantar pulang”
“Ah, kalau itu sudah kewajibanku, hehe” ujarnya disertai tawa
Kalau saya terus berbicara, mungkin ia baru akan pulang nanti subuh. Akhirnya, saya pun menyuruhnya pulang.
“Ya sudah, kamu pulang, ini sudah malam sekali. Hati-hati di jalan, ya”
“Ah iya may, sampai jumpa lagi”
Sampai jumpa lagi? Beneran? Kapan? Dua tahun lagi? Saya sedikit merutuk dalam hati, sebenarnya tak ingin ia pergi, takut saya tak bisa bertemu dengannya lagi. Ah maya, kamu kenapa sih.
Mesin mobilnya pun berbunyi dan sedetik kemudian, mobil itu melaju perlahan meninggalkan aku yang masih mematung di tempat itu.
”Ah, dingin banget” ucap saya sambil memeluk tubuh saya sendiri, saya pun menghentikan lamunan dan khayalan dan langsung masuk ke rumah, bersyukur ia tak jadi bertemu ayah, walaupun harus sedikit berbohong, tapi tak apa-apalah untuk kebaikan juga.
Saya melihat ayah sedang menonton televisi dan menyambut saya, saya jadi teringat dengannya. Betapa jahatnya saya membohongi dan menolak niat baiknya.
Di dalam kamar, saya masih saja memikirkannya, entah sejak kapan, fikiran saya mulai dipenuhi olehnya. Ingin sekali saya melupakan kejadian-kejadian di hari tadi dan berusaha memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi saya, tapi sulit. Ah, sejak kapan ini terjadi? Padahal saya adalah orang yang gampang sekali tertidur, mencium bau bantal saja langsung saya pulas.  Tapi, mengapa sekarang berbeda? Saya juga merasakan hati saya berdesir, rasanya memang indah. Saya masih berfikir apakah dia laki-laki yang baik? Apakah dia benar-benar menyukai saya? Ah, apakah saya yang kepedean? Entahlah…

Esoknya, saya bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Malas sekali, kuliah pagi di hari senin. Tapi, sekejap kemudian saya merasakan kembali hangatnya perasaan itu yang mana membuat saya sepenuhnya terbangun. Ya, kejadian hari kemarin secara tak langsung membuat perasaan saya tak karuan. Kejadian demi kejadian itu masih sempurna terekam dalam ingatan saya, ketika ia mengajak saya jalan yang malah berakhir dengan dikenalkannya saya ke keluarganya, serta keberaniannya untuk berkenalan dengan ayah. Tak mudah melupakan itu semua.
Saya bangkit dari lamunan-lamunan indah saya dan beranjak melangkah ke kamar mandi. Setelah berpamitan pada ayah dan ibu, saya pun pergi. Sepanjang jalan, saya melamun kapankah saya bisa bertemu lagi dengannya? Si pria bergitar…
Tanpa terkira, sebuah klakson mobil mengagetkan saya. Déjà vu.
Tak salah lagi, sosok dalam mobil itu adalah dirinya.
“Maya!” serunya
Saya menoleh dan menatap wajahnya, desiran itu kembali ada…
Ternyata saya tak butuh dua tahun selanjutnya lagi untuk bertemu dengannya. Lega…
“May, kok bengong? Bareng yuk!”
“Eh, kamu mau kemana emang?”
“Aku sih kemana aja, yang penting sama kamu”
Eh, pria ini kenapa sih. Jago sekali membuat saya jantungan dan mengacaukan perasaan saya jadi tak karuan.
“Kamu mau ke kampus, kan?” sambungnya
“Eh, iya”
“Ya sudah yuk, aku antar kamu ke kampus”
Saya semakin tak karuan, degdegan, sekaligus kepedean.
“Mau nggak?” tanyanya lagi
Sedetik kemudian, saya pun mengangguk dan masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan, kami mengobrol sekedar mencairkan suasana dan saya akui dia memang jago memainkan suasana, tak pernah kehabisan bahan obrolan. Mengasyikan. Hingga tiba-tiba suasana menjadi hening setelah ucapan terakhirnya.
“May, kamu sudah ada yang punya?”
Beberapa detik, tak ada jawaban yang keluar dari mulut saya, tak seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Hingga ia memecahkan kembali keheningan itu.
“Pasti sudah ya, gadis secantik kamu mana mungkin tak ada yang punya.” ucapnya diselingi tawa
“Tidak” ucapan itu spontan keluar dari mulut saya seolah saya ingin membantah kata-katanya.
“Wah, masa belum ada yang datang gitu ke rumah?  Mau melamar”
Ah, kacau sudah fikiran saya meladeni topik pembicaaraannya yang mulai mendebarkan hati saya. Jelas-jelas cuma dia pria satu-satunya yang datang ke rumah, sok-sokan ingin kenalan dengan ayah. Saya hanya tersenyum saja, tak terasa perjalanan ke kampus sudah semakin dekat.
“Terima kasih ya sudah antar” ucap saya
“Sama-sama, kalau ada apa-apa, jangan sungkan dan bilang saja ke saya. Oh ya, kalau ada yang ganggu kamu, bilang aku, biar aku buat dia tak bisa mengganggu kamu lagi”
Saya membalas dengan senyuman dan membuka pintu mobilnya, tanpa terasa saya tak kuat menahan tawa. Ya, tawa bahagia. Saat itu juga, saya menyadari, saya jatuh cinta…
Hari-hari berlalu dengan cepat dan tanpa saya sadari, waktu telah mengurangi jarak diantara kami, kali ini waktu berpihak pada kami, tak perlu lagi aku menunggu bertahun-tahun untuk bertemu dengannya. Waktu itu mengurangi jarak kami yang tadinya saya hanya senyum-senyum malu saja kalau bersama dia, sekarang saya sudah berani tertawa terbahak-bahak di depannya, mengobrol, jalan, nonton, makan bareng sudah menjadi rutinitas kami, ia pun sudah berkenalan dengan ayah. Ya, hal yang saya takutkan itu tak sebegitu menakutkan ketika dijalani, wajar saat itu saya tak terlalu mengenalnya. Namun, sekarang saya sudah merasa jauh lebih baik ketika ia ada di samping saya.
Saya sudah jauh lebih mengenal ia dibanding tahun-tahun yang lalu, dimana saya hanya mengenalnya sebatas semilir angin. Kini, saya mengenalnya lebih dari semilir angin. Banyak sekali sifat baik darinya yang tak saya ketahui, ia seorang yang pintar, rajin, menyayangi keluarga, dan sosok yang sabar. Beberapa sifat buruk dan uniknya pun sudah saya tahu. Begitu pun dengan ia yang mengenal saya lebih jauh saat ini. Kami sudah mengerti satu sama lain. Tapi, ada satu yang masih saya ragukan, ia belum mengungkapkan isi hatinya….
Bukan, ini bukan perkara saya yang kepedean, sikap yang ia tunjukan selama ini kepada saya sudah benar-benar menjelaskan semuanya, perhatiannya, perilakunya, hingga perkataanya. Sampai ia pernah berkata, saya hanya tinggal menunggu. Kata sejuta makna, menunggu untuk apa? Saya tak tahu. Saya hanya menuruti saja untuk menunggu hingga saya tak sadar siapa saya baginya.
Hingga hari itu tiba, hari dimana semuanya terasa dusta, hari dimana hati saya sungguh terluka, hari dimana saya tak ingin melewatinya.
Sore itu, ia mengajak saya bertemu di sebuah taman. Fikiran saya sudah melayang-layang jauh kesana, apakah ini hari dimana penantian saya selesai? Namun taman itu menjadi taman yang menjadi saksi bisu pertemuan kami, taman yang menjadi batas penutup kisah kisah bahagia kami selama ini. Tak ingin lagi, seumur hidup saya menginjak taman ini. Pertemuan yang saya duga akan menjadi pertemuan yang membahagiakan malah menyedihkan.
Ya, saya bersedih ketika kata demi kata meluncur dari mulutnya. Telinga saya seakan menolak mendengarnya. Kata-kata itu tak pernah saya duga akan keluar dari mulutnya dan bukan ini kata-kata yang saya harapkan.
“May”
“Maafkan aku sebelumnya dan terima kasih kamu sudah jadi orang yang buat saya bahagia beberapa tahun ini. Tidak, saya bahagia sejak pertama kali melihat kamu di angkot. Saya bersyukur bisa naik angkot hari itu dan bertemu kamu. Aku membawa kabar bahagia untuk kamu. Tapi aku tak tahu apakah ini membuat kamu bahagia atau tidak karena sesungguhnya aku juga tak tahu apakah aku bahagia atau tidak. Aku mendapat beasiswa S2 ke Amsterdam. Tak hanya itu, setelahnya aku juga ditawari kontrak bekerja disana. Aku mengajukan beasiswa itu sebelum aku benar-benar mengenal kamu, jadi tak ada alasan untuk aku tinggal disini lebih lama lagi, terlebih karena aku terpukul atas kepergian papi. Papi sudah tidak ada dan mami sudah tinggal tenang bersama kakak. Tak ada yang perlu aku lakukan lagi disini, begitulah fikirku saat itu. Aku sudah mendengar kabar bahagia ini beberapa bulan lalu, jujur aku bingung saat itu apa yang harus aku lakukan dan beberapa hari lalu, aku memutuskan untuk mengatakan ini padamu.”
Sudah, jangan diteruskan” ucap saya dalam hati sembari mencoba menahan bulir-bulir cairan bening yang sudah menumpuk di pelupuk mata.
“Sebenarnya, aku selalu menyuruh kamu menunggu adalah menunggu aku untuk memutuskan keputusan apa yang harus aku ambil tapi aku menyadari aku tak dapat membuat keputusan ini sendiri. Aku tak mau ada yang terlukai karena keputusanku dan inilah tujuan pertemuan kita sore ini, aku mau minta pendapatmu, may. Apa yang harus aku lakukan?”
“Her…” ucap saya
Apa maksud perkataannya? Apakah ia ingin saya menangis meraung-raung memohon agar ia tak pergi? Tidak, saya tidak seegois itu. Saya bukan anak-anak. Saya sadar, saya bukan siapa-siapa. Hubungan pun tak jelas. Atas alasan apa saya dapat menahannya untuk pergi? Saya tahu, ini hal baik buatnya, ini adalah impiannya. Saya dapat melihat dari kilas matanya. Saya tidak ingin merusak impian itu. Tapi untuk apa kamu bertanya? Kamu malah membuat saya berbohong dan melukai hati saya sendiri kalau kamu bertanya pada saya.
Langit sore itu seketika terasa runtuh, saya tak sanggup menopang badan saya, fikiran saya kalut, dan air mata sudah tak tertahan lagi. Lari. Hanya itu yang ingin saya lakukan saat ini. Tak ada sepatah katapun yang mampu saya ucapkan pada pria di hadapan saya ini. Ia, dengan raut wajah bingungnya menatap saya dalam. Nanar pandangannya membuat saya tak berani menatapnya lebih lama lagi.
“May” serunya lagi
“Lakukan saja apa yang menurut kamu baik dan terbaik buat kamu. Jangan khawatirkan saya karena saya nggak ada apa-apanya dibanding impian kamu. Kenapa harus bingung mengambil keputusan apa yang harus kamu ambil? Kenapa bertanya pada saya yang tidak akan mengerti tentang impian dan goal hidupmu. Kamu yang lebih mengerti dirimu sendiri”
Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut saya. Entah saya tak memikirkan resiko apa yang akan terjadi dengan keluarnya kata-kata itu. Saya hanya mengungkapkan apa yang ada di fikiran saya.
“Kamu berbohong, may.”
Kaget, saya tak mengerti apa dia ahli membaca fikiran atau semacamnya.
“Terserah apa katamu, lalu apa yang harus saya katakan? Saya harus menahan kamu untuk tak pergi? Untuk apa? Saya tidak sejahat itu, karena saya akan  pergi jika saya ada di posisi kamu.”
“May, apa kamu bisa menunggu untuk waktu yang lebih lama lagi?”
Sial! Apa dia tak berfikir betapa tersiksanya saya menunggu pengakuan darinya yang malah berbuah luka seperti saat ini. Sekarang, ia menyuruh saya menunggu lagi? Apa yang harus saya tunggu?
“Menunggu untuk apa?” akhirnya pertanyaan itu dapat saya lontarkan
“Maaf, tidak. Kamu tidak perlu menungguku. Kamu juga punya impian dan masa depan, bukan? Aku bukan orang yang pantas ditunggu.  Aku memang terlalu banyak menyakiti hatimu. Aku tak mau membuatmu lebih sakit lagi dengan harus menunggu aku. Lagian, kamu nggak mau nunggu, kan?”
Sakit. Bak disambar petir di siang hari. Mengapa dia beraninya mengatakan itu pada saya? Saya sanggup menunggu. Seribu tahun pun akan saya tunggu kamu. Tapi mengapa kamu mengatakan itu. Kamu tak ingin saya tunggu? Mengapa pertanyaan kamu seakan meragukan saya? Kamu tak yakin saya bisa menunggu kamu?

“Hari minggu ini tanggal 17 Januari, aku akan pergi may. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan banyak makan pedes, nanti diare. Kalau jalan sendirian jangan ngelamun nanti di hipnotis. Kalau masak jangan ngelamun, nanti tangan kamu kegoreng.”
Dia membuat lelucon agar saya tertawa? Apa sih yang ada di fikiran kamu? Sempat-sempatnya kamu berusaha membuat saya tertawa di keadaan seperti ini. Kamu bukan membuat saya tertawa, tapi menangis.
“Aku antar kamu pulang sekarang, ya?” ucapnya
“Nggak perlu, kamu harus packing dari sekarang. Jaga diri dan jaga kesehatan kamu. Aku pergi”
Seketika, saya pun berbalik pergi. Tak kuasa menahan resiko apa yang terjadi jika diam disini lebih lama lagi. Samar-samar, saya mendengar ia memanggil manggil nama saya. Saya tak sanggup untuk menoleh, hati saya terlalu sakit. Tak menyangka, ternyata sosok yang saya kenal berani dan bertanggung jawab ini dengan mudahnya melepas perempuannya. Ah, tunggu… saya kan tak punya hubungan apa-apa dengannya. Siapa saya? Bodoh. Selama ini saya yang bodoh, saya terlalu banyak berharap, padahal mungkin ia hanya menganggap saya sebatas teman. Mengapa saya menumpahkan semua perasaan saya baginya, saya tak pernah berfikir resiko ia akan pergi secepat ini. Saya salah menyayanginya.
11 Januari 2000 di bawah teduhnya langit Jakarta, saya berpisah dengannya dan saya tak akan pernah melupakannya…

Time fly so fast…
Jakarta, 11 Januari 2015
”Selamat 11 Januari yang ke-sepuluh. Semoga kamu yang disana baik-baik saja” ucap saya dalam hati.
“Bundaaa!”ucap seseorang dari ujung sana.
Setelah kejadian itu, saya tetap hidup. Bahkan saya bertekad hidup lebih baik lagi dari saya yang hari ini dengan tidak menyayangi kembali orang yang salah.
Selepas dia pergi, saya tak bisa tinggal diam. Saya tidak bisa menunggu untuk orang yang tak ingin ditunggu dan meragukan saya untuk menunggu. Untuk apa menunggu dia yang tak akan pernah kembali? Saya juga punya kehidupan dan berhak bahagia. Apa hidup saya hanya akan dihabiskan untuk menunggu? Hidup saya saat ini sudah jauh lebih baik dengan suami yang begitu menyayangi saya dan anak anak saya. Namun, saya tidak akan pernah bisa melupakan kamu yang jauh disana…
Siang itu mungkin menjadi hari terhectic buat saya, mengurus ini itu, kesana-kesitu, mengurus kerjaan yang begitu numpuknya. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar dan menghilangkan kepenatan. Café pun menjadi pilihan saya. Namun, tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Dia kembali…
Tidak, bukan karena begitu lelahnya sehingga saya berhalusinasi, bukan pula karena saya sedang melamun membayangkan dia. Bagai oase di tengah gurun pasir, ia datang disaat ruwetnya fikiran saya. Dia, pria yang amat saya cintai sepuluh tahun lalu. Saya menepuk-nepuk pipi saya meyakinkan bahwa saya tak bermimpi. Saya melihat pria itu di ujung sebuah café, sedang duduk sendiri sambil sesekali memainkan smartphone dalam genggamannya. Ia memakai kemeja abu rapi dengan dasi berwarna lebih muda. Dia tak berubah, tetap seperti dia yang dulu. Jujur, perasaan itu masihlah ada. Perasaan itu adalah perasaan menyesal. Menyesal mengapa dulu saya tidak menyanggupi permintaan nya untuk menunggu. Toh, dia adalah orang yang patut ditunggu. Saya menyesal karena mendahulukan ego dan emosi saya saat itu. Hingga pria itu datang kembali, memori sepuluh tahun yang lalu itu terputar kembali dalam memori. Perlahan, saya mendekat. Entah apa yang ada di fikiran saya.
“Her…” dia menoleh dan mencari suara saya
“Maya!” dia melonjak kaget
Dia mempersilakan saya untuk duduk.
“Maya, ini kamu maya? Saya tidak bermimpi?” ucapnya
Saya hanya mengangguk sambil memberikan senyum padanya
“Iya, ini saya. Kamu apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat, aku sama seperti dulu. Bagaimana kabar kamu?”
“Lebih baik” ucap saya
“Ngomong-ngomong kapan kamu balik lagi ke Indonesia?”  Tanya saya
“Aku kembali ke Indonesia sebulan lalu dan aku tak menyangka secepat ini bisa bertemu kamu.”
Saya tersenyum.
“Bagaimana S2 kamu? Dan bagaimana pekerjaan kamu disana?” tanya saya antusias
“Lancar, dan aku kembali lagi kesini karena aku merasa Indonesia lebih baik buatku, dan aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia demi kamu”
Desiran perasaan sepuluh tahun lalu itu kembali lagi. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Cerita sepuluh tahun lalu itu telah berakhir.
“May, kamu menunggu buatku?”
Ya Tuhan, jawaban apa yang harus saya berikan padanya. Mengapa dia bertanya seperti ini? Apa dia lupa ucapannya sepuluh tahun lalu? Apa dia tak ingat apa yang dia katakan itu? Perkataan yang melukai hati saya dan membuat saya tak bisa menunggunya. Mengapa dulu kamu melarang aku menunggu kamu? Mengapa?
“A…aku…”
“Kenapa kamu tanya begitu? Bukannya kamu melarang aku untuk menunggu kamu?”
“May, maksud kamu?”
“Aku sudah menikah, memiliki anak, dan aku bahagia dengan hidupku yang sekarang” ucap saya tegas
“May” ujarnya
Cairan bening mulai menumpuk di pelupuk mata saya. Penyesalan, kenangan, dan perasaan itu kembali muncul bersama dengan datangnya pria ini.
“Aku sanggup menunggu kamu walau sampai seribu tahun jika kamu minta. Tapi kamu tak meminta itu, aku menyangka kamu akan bahagia dengan mencari aku yang lain disana. Aku nggak pernah berjanji kan akan menunggu kamu.” ucap saya seraya menyeka air mata
“May, maaf…”
“Tidak perlu ada yang dimaafkan, aku hanya minta kamu memulai hidup baru kamu tanpa kenangan tentang aku.”
“May”
“Semuanya sudah berlalu, kita gak mungkin bisa kembali seperti sepuluh tahun lalu. Aku lebih sayang keluargaku. Sakit buatku mengorek kenangan lama itu”
Ia masih bisu dan berusaha mencerna kata-kata yang saya ucapkan. Entahlah, saya hanya ingin membuang perasaan itu jauh dari saya. Sejauh-jauhnya hingga saya tak akan mengingatnya lagi.
“Ya, nggak selamanya cinta harus memiliki. Aku lebih bahagia melihat kamu bahagia seperti sekarang daripada melihat kamu menunggu aku.” ucapnya
“Terima kasih sudah mengerti aku. Kamu akan mendapat orang yang lebih baik dari aku.”
“Oh ya, sekarang tanggal 11 Januari. Ingatkah kamu? Saat itu kita berpisah dengan kebahagiaan kita dan saat ini pula kita bertemu untuk mengubur kenangan itu. Selamat tanggal 11 Januari…”
Kami pun melanjutkan percakapan kami di sore yang mendung itu. Tidak, kami tidak membicarakan kami sepuluh tahun yang lalu dan segala kebahagiaan di dalamnya. Kami berbicara sebagai sepasang sahabat yang sepuluh tahun terpisah oleh jarak dan waktu.
Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Kisah Cinta Bunda 3F - #LoveStory


8 comment:

Obat jantung koroner mengatakan...

baca nya jadi agak sedih

Rhena Indria mengatakan...

uwuwu, jadi baper ya :')

Tanti Amelia mengatakan...

hiks hiks...

udah jadi panjang ajah

Rhena Indria mengatakan...

Huhuhu kenapa? Sedih gaa? :") hehe

Diah Woro Susanti mengatakan...

soundtracknya lagu gigi 11 januari bikin mellow abis hehe

Maya Siswadi mengatakan...

huaa, sediihh. makasih yaa dah ikutan

Rhena Indria mengatakan...

waduuuh, iya itu mah udah pas banget Mbak hehe, bikin baper :')

Rhena Indria mengatakan...

Huaaa di comment Mbak Maya, nih! hehe. Iya sama-sama, semoga Mbak Maya suka! :D